• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Laba Vale (INCO) Naik Menjadi US$ 43,6 Juta di Kuartal I-2026

Laba Vale (INCO) Naik Menjadi US$ 43,6 Juta di Kuartal I-2026

April 30, 2026
Pendiri Blue Bird Ini Borong Saham Sampai Rp78,31 Miliar, Ada Apa?

Pendiri Blue Bird Ini Borong Saham Sampai Rp78,31 Miliar, Ada Apa?

July 7, 2026
IHSG Sesi 1 Naik 0,41%, Sedikit Lagi Sentuh Level 6.000

IHSG Sesi 1 Naik 0,41%, Sedikit Lagi Sentuh Level 6.000

July 7, 2026
Pemerintah Pastikan PFII & KEK Tak Akan Bersaing

Pemerintah Pastikan PFII & KEK Tak Akan Bersaing

July 7, 2026
Laba 2025 Capai Rp 27 Miliar, Ini Penjelasan Bos Agrinas

Laba 2025 Capai Rp 27 Miliar, Ini Penjelasan Bos Agrinas

July 7, 2026
Harga Minyak Menguat ke US,48, Pasokan Jadi Ancaman

Harga Minyak Menguat ke US$72,48, Pasokan Jadi Ancaman

July 7, 2026
Bangun Sekolah Rakyat di Papua, Waskita Perkuat Akses Pendidikan

Bangun Sekolah Rakyat di Papua, Waskita Perkuat Akses Pendidikan

July 7, 2026
Awasi Persaingan Gak Sehat di Lembaga Keuangan, OJK Gandeng KPPU

Awasi Persaingan Gak Sehat di Lembaga Keuangan, OJK Gandeng KPPU

July 7, 2026
Faik Fahmi Ditunjuk Jadi Direktur Utama Pelita Air

Faik Fahmi Ditunjuk Jadi Direktur Utama Pelita Air

July 7, 2026
Breaking! BI Catat Cadangan Devisa Naik Tipis Jadi US5,6 M di Juni

Breaking! BI Catat Cadangan Devisa Naik Tipis Jadi US$145,6 M di Juni

July 7, 2026
BNI (BBNI) Setop Buyback, Udah Borong 77,85 Juta Saham

BNI (BBNI) Setop Buyback, Udah Borong 77,85 Juta Saham

July 7, 2026
KRAS Jual Seluruh Saham Krakatau Osaka Steel Rp 251,91 M

KRAS Jual Seluruh Saham Krakatau Osaka Steel Rp 251,91 M

July 7, 2026
Awasi Persaingan Gak Sehat di Lambaga Keuangan, OJK Gandeng KPPU

Awasi Persaingan Gak Sehat di Lambaga Keuangan, OJK Gandeng KPPU

July 7, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Tuesday, July 7, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Laba Vale (INCO) Naik Menjadi US$ 43,6 Juta di Kuartal I-2026

2 months ago
in Lifestyle
Laba Vale (INCO) Naik Menjadi US$ 43,6 Juta di Kuartal I-2026
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja positif sepanjang Kuartal I-2026.

INCO berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 100% menjadi US$ 43,6 juta atau sekitar Rp 752 miliar (asumsi kurs Rp 17.255 per US$) pada Kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Kuartal I-2025) yang tercatat sebesar US$ 21,8 juta.

Sementara bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, laba bersih perusahaan melonjak 85% dari US$ 23,6 juta pada Kuartal IV-2025.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, capaian ini tak terlepas dari peningkatan pendapatan dan EBITDA perusahaan.

Perusahaan berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 22,3% menjadi US$ 252,7 juta pada Kuartal I-2026 dari US$ 206,6 juta pada Kuartal I-2025 lalu.

Begitu juga dari sisi EBITDA melonjak 54,9% menjadi US$ 80,1 juta dari US$ 51,7 juta pada Kuartal I-2025.

Melalui pernyataan resmi Vale, positifnya kinerja pada Kuartal I-2026 ini juga dipicu oleh meningkatnya harga nikel dunia. Selama Kuartal I-2026 PT Vale mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar US$ 14.213 per metrik ton, meningkat 15% dari US$ 12.308 per metrik ton pada Kuartal IV-2025.

“Yang perlu diperhatikan, tahun 2026 menandai tahun penuh pertama penjualan nikel matte dengan tingkat pembayaran 82%, yang memberikan basis pendapatan yang lebih kuat dan visibilitas margin yang lebih baik,” ungkap perusahaan, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).

“Ke depannya, dengan harga nikel LME yang diperkirakan akan tetap berada pada tren kenaikan, Perseroan berada pada posisi yang baik untuk lebih meningkatkan nilai dari struktur komersialnya yang telah dioptimalkan,” imbuhnya.

Dari sisi biaya, biaya tunai per unit penjualan nikel matte pada Kuartal I-2026 tetap kompetitif di US$ 10.382 per ton, sedikit lebih tinggi dari US$ 9.573 per ton pada Kuartal IV-2025, terutama mencerminkan harga input komoditas yang lebih tinggi.

Untuk bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit tetap stabil, dengan Bahodopi di US$ 21 per ton dan Pomalaa di US$ 13 per ton, termasuk royalti dan logistik.

“Dalam waktu dekat, Perseroan mengharapkan optimalisasi biaya tunai akan didorong oleh volume penjualan yang lebih tinggi dari blok Pomalaa seiring dengan peningkatan skala operasi. Peningkatan volume diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya dan menghasilkan skala ekonomi yang lebih besar, yang sebagian akan mengimbangi basis biaya yang secara struktural lebih tinggi di Bahodopi dan mendukung profil biaya keseluruhan yang lebih seimbang,” bunyi pernyataan perusahaan.

Dari sisi produksi, Vale mencatatkan produksi nikel matte sebesar 13.620 metrik ton pada Kuartal I-2026, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 17.027 metrik ton.

“Hasil ini sepenuhnya sesuai dengan rencana Perseroan, yang mencerminkan optimalisasi kegiatan pemeliharaan yang terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai pada semester pertama tahun 2026, serta dampak dari persetujuan RKAB 2026,” jelas perusahaan.

“Sejalan dengan penyesuaian produksi yang direncanakan, pengiriman nikel matte menurun sebesar 25% secara triwulanan. Ke depan, PT Vale tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi setahun penuh sebesar 67.645 ton dan berada pada posisi yang baik untuk memperoleh peningkatan dari harga nikel LME yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Selain produksi nikel matte, tahun 2026 merupakan tahun penting dalam lintasan pertumbuhan PT Vale, karena Perseroan mulai mengoperasikan tiga blok pertambangan, yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa secara bersamaan.

Tonggak strategis ini ditunjukkan oleh volume produksi yang dapat ditingkatkan di setiap blok pertambangan, dan penjualan pertama bijih nikel limonit dari area Pomalaa pada awal tahun 2026, yang menandai perluasan signifikan portofolio komersial PT Vale dan memperkuat diversifikasi pendapatan di masa mendatang.

“Ke depan, Perseroan mengharapkan kinerja EBITDA, pendapatan, dan laba yang lebih kuat, didorong oleh harga nikel LME yang lebih baik, peningkatan leverage operasional, dan perluasan margin seiring dengan peningkatan volume produksi,” tulis pernyataan perusahaan.

(wia)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
IHSG Lanjut Reli, Lompat 1,84% Tembus Level 8.200

IHSG Lanjut Reli, Lompat 1,84% Tembus Level 8.200

October 21, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Pendiri Blue Bird Ini Borong Saham Sampai Rp78,31 Miliar, Ada Apa?

Pendiri Blue Bird Ini Borong Saham Sampai Rp78,31 Miliar, Ada Apa?

July 7, 2026
IHSG Sesi 1 Naik 0,41%, Sedikit Lagi Sentuh Level 6.000

IHSG Sesi 1 Naik 0,41%, Sedikit Lagi Sentuh Level 6.000

July 7, 2026
Pemerintah Pastikan PFII & KEK Tak Akan Bersaing

Pemerintah Pastikan PFII & KEK Tak Akan Bersaing

July 7, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .