
Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah aplikasi belanja live streaming bernama Whatnot tengah disorot bukan karena pertumbuhan bisnisnya yang moncer, melainkan karena dampaknya terhadap sejumlah penggunanya. Sean Harding, akuntan berusia 45 tahun, mengaku menghabiskan hampir 1,4 juta dolar AS atau sekitar Rp23 miliar hanya dalam empat bulan setelah kembali menekuni hobi masa kecilnya mengoleksi kartu bisbol lewat aplikasi ini. Uang itu berasal dari tabungan, pinjaman pribadi, utang ke teman, hingga kartu kredit kantor. Saat sang istri mengetahui total pengeluarannya, ia langsung mengajukan gugatan cerai.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Harding mengakui betapa mudahnya ia terus menekan tombol “swipe” untuk menaikkan tawaran, tanpa sempat menyadari sudah berapa kali ia melakukannya. Whatnot, yang baru berusia tujuh tahun, kini menjadi salah satu platform belanja dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat. Pengguna bisa menawar kartu koleksi, mainan, fesyen desainer, hingga mi instan lewat siaran langsung yang penuh histeria, kapan saja sepanjang hari.
Yang membuat aplikasi ini begitu adiktif adalah desainnya yang meniru pola media sosial – algoritma menyodorkan konten secara acak, mendorong pengguna untuk terus membuka aplikasi berharap menemukan barang incaran secara kebetulan. Proses tawar-menawar pun dibuat serba cepat: hanya perlu satu kali geser layar tanpa ada halaman konfirmasi atau checkout tambahan, sehingga nyaris tidak ada jeda untuk berpikir ulang.
Skala bisnisnya memang mengesankan. Whatnot mengaku menambah 20 juta akun baru sepanjang 2025, diproyeksikan menembus pendapatan 1 miliar dolar AS tahun ini, dan mengklaim menguasai hampir 60% pasar live commerce di Amerika Utara dan Eropa. Didukung investor kakap seperti Andreessen Horowitz, Sequoia Capital, dan CapitalG, perusahaan ini telah mengantongi pendanaan hampir 975 juta dolar AS dengan valuasi 11,5 miliar dolar AS.
Namun di balik angka-angka fantastis itu, kritik soal desain aplikasi yang mendorong pengeluaran berlebihan terus bermunculan. Mark Leiser, pakar hukum digital dari Universitas Leiden, Belanda, menyebut kekacauan dan kecepatan lelang di aplikasi ini membuat pengguna tidak pernah benar-benar punya momen sadar untuk mengambil keputusan – sebuah fenomena yang ia sebut sebagai “degradasi persetujuan”.
CEO sekaligus salah satu pendiri Whatnot, Grant LaFontaine, membantah tudingan tersebut. Ia mengklaim rating aplikasinya di Apple App Store mencapai 4,7, dan data internal maupun eksternal belum menunjukkan kecanduan atau pengeluaran berlebihan sebagai masalah signifikan. Meski begitu, perusahaan mengaku telah menambahkan fitur batas pengeluaran opsional, batas waktu menonton, hingga tombol jeda belanja instan yang baru diluncurkan pekan lalu.
Kisah pilu lain datang dari Julie Johnson, event planner berusia 58 tahun yang mengaku telah menghabiskan sekitar 120 ribu dolar AS dalam tiga tahun terakhir untuk berbelanja fesyen di Whatnot. Ia bahkan menghabiskan sekitar enam jam sehari menonton siaran langsung di aplikasi tersebut, hingga menyebut dirinya “benar-benar kecanduan” meski tidak pernah punya riwayat kecanduan lain sebelumnya.
Kasus yang lebih parah dialami Joe Thompson, perawat berusia 53 tahun yang awalnya berniat mencari untung dari koin kolektor langka. Dalam lima bulan, seluruh tabungan pensiunnya ludes dan 13 kartu kreditnya maksimal terpakai, setelah ia mengetahui koin-koin yang dibelinya ternyata telah dimanipulasi sehingga nilainya jauh di bawah harga beli. Skor kreditnya anjlok dari 753 menjadi 563 dengan utang mendekati 75 ribu dolar AS.
Selain masalah pengeluaran, Whatnot juga bergulat dengan isu barang curian. Polisi bahkan sempat menggerebek gudang penjual sepatu ternama di aplikasi ini dan menyita ribuan pasang sepatu serta pakaian senilai sekitar 500 ribu dolar AS yang diduga hasil curian.
Fitur paling kontroversial datang dari sesi “breaks”, di mana pembeli membayar sejumlah uang untuk mendapatkan kartu secara acak dari kotak yang dibuka langsung di depan kamera – mirip judi kasino. Momen paling ikonik terjadi pada 2022, ketika sebuah kartu langka bernilai jutaan dolar berhasil ditemukan dan kemudian dijual seharga 2,4 juta dolar AS, memicu histeria masif di kalangan penonton.
Praktik ini membuat pengacara perlindungan konsumen, Paul Lesko, mengajukan gugatan arbitrase atas nama lebih dari 70 klien. Ia menuding sistem “breaks” Whatnot sebagai bentuk lotre ilegal yang melanggar hukum California, bahkan menyebutnya beroperasi layaknya kasino online tanpa perlindungan yang seharusnya berlaku bagi operator judi resmi. Whatnot dengan tegas membantah tudingan tersebut, menegaskan bahwa pembeli selalu pulang membawa kartu, bukan pulang dengan tangan kosong seperti dalam perjudian.
(fsd/fsd)

















