
Jakarta, CNBC Indonesia- Ketidakpastian pasar keuangan global disebut Direktur Utama Valbury Asia Futures, Nino J. Limantara masih berpeluang terjadi hingga akhir semester II-2026 meski sentimen pendorong akan sedikit berbeda disbanding awal tahun. Jika Semester I-2025 volatilitas didorong oleh ketegangan geopolitik global maka di periode akhir ini lebih disebabkan oleh suku bunga, inflasi dan perlambatan ekonomi global.
Bagi perdagangan bursa berjangka, sentimen suku bunga akan mempengaruhi pergerakan Harga emas, jika suku bunga The Fed ditahan maka Harga emas akan mengalami kenaikan dan sebaliknya.
Pada Semester II-2026 ini, trader bursa berjangka bisa merealisasikan profit saat Harga baik maupun Harga turun sehingga saat volatilitas tinggi makan transaksi nasabah cukup tinggi hingga bisa naik 40%-60% hingga akhir tahun.
Saat ini transaksi emas dan forex masih mendominasi bursa berjangka, lalu bagaimana prospek investasi bursa berjangka? Selengkapnya simak ulasan Andi Shalini dengan Direktur Utama Valbury Asia Futures, Nino J. Limantara dalam Power Lunch, CNBC (Senin, 10/08/2026)


















