
Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terus memperkuat ekosistem digital untuk mendorong pertumbuhan transaksi sekaligus memperbesar potensi penghimpunan dana murah (CASA).
Hingga semester I-2026, aplikasi BRImo mencatat pertumbuhan pengguna dan transaksi yang signifikan, yang kemudian menjadi bagian dari strategi BRI memperkuat dana pihak ketiga (DPK), khususnya CASA.
Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan hingga semester I-2026 jumlah pengguna aktif BRImo telah mencapai 22,4 juta pengguna. Sementara itu, transaksi finansial melalui BRImo mencapai 3,3 miliar transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp4.166 triliun.
“BRImo terus menunjukkan pertumbuhan. Hingga semester I, active users mencapai 22,4 juta dan 3,3 miliar transaksi finansial dengan value Rp4.166 triliun,” ujar Aquarius dalam paparan kinerja BRI semester I-2026, Senin (31/8/2026).
Menurut Aquarius, penguatan BRImo tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah pengguna, tetapi juga mendorong semakin banyak aktivitas transaksi nasabah di dalam ekosistem BRI.
Strategi serupa diterapkan pada sisi merchant dengan menyederhanakan proses onboarding sehingga aktivitas transaksi dan volume penjualan merchant meningkat.
Salah satu indikatornya terlihat dari transaksi QRIS. Aquarius mengungkapkan, sales volume per merchant atau per store meningkat 53,8% menjadi Rp13,4 juta per bulan. Sementara itu, nilai transaksi QRIS tumbuh 86% yoy menjadi Rp583,4 miliar.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran jaringan digital BRI dalam menangkap transaksi harian masyarakat dan pelaku usaha, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Pertumbuhan ini menunjukkan semakin kuat BRI mengelola transaksi harian masyarakat dan pelaku usaha, termasuk UMKM,” katanya.
Sementara itu, hingga semester I-2026, volume transaksi melalui AgenBRILink mencapai Rp841 triliun. Pertumbuhan aktivitas tersebut juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan berbasis komisi atau fee income.
Aquarius mencatat fee income dari AgenBRILink tumbuh 16,3% yoy menjadi Rp915,7 miliar.
“Ini menunjukkan jaringan fisik dan digital BRI saling melengkapi,” ujar Aquarius.
Strategi tersebut menjadi relevan dengan upaya BRI memperkuat struktur pendanaan. Hingga semester I-2026, DPK BRI mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7% yoy.
Di dalamnya, dana murah atau CASA tumbuh sekitar 10,1% yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total DPK. CASA ratio BRI pun naik menjadi 67,6%.
Pertumbuhan CASA yang lebih cepat tersebut membantu BRI menekan biaya dana atau cost of fund (CoF). Pada semester I-2026, CoF BRI berada di sekitar 2,4%, turun dari sekitar 3,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu BRI menjaga profitabilitas di tengah tekanan margin. Pada semester I-2026, NIM BRI tercatat 6,4%, turun dari 6,58% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, penurunan CoF dan penguatan CASA menjadi salah satu bantalan bagi kinerja perseroan.
Secara keseluruhan, BRI membukukan laba bersih Rp31,2 triliun pada semester I-2026, tumbuh 17,5% yoy.
(mkh/mkh)



















