
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada akhir perdagangan sesi I Rabu (2/9/2026). IHSG yang sempat menguat pada awal perdagangan kini terkoreksi 0,28%.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG pada pukul 12.00 WIB berada di level 6.581,45, turun 18,49 poin atau 0,28% dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di 6.599,94.
IHSG dibuka di level 6.625,39 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.629,54. Namun, indeks kemudian berbalik turun dan menyentuh level terendah 6.561,00.
Perdagangan sesi I berlangsung cukup ramai dengan volume mencapai 32,03 miliar saham, nilai transaksi Rp9,91 triliun, dan frekuensi sebanyak 1,51 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.505 triliun.
Sebanyak 276 saham menguat, 343 saham melemah, sementara 344 saham lainnya stagnan.
Dari sisi sektoral, pelemahan IHSG tertahan oleh sejumlah sektor yang masih menguat. Konsumer non-primer menjadi sektor dengan penguatan terbesar, yakni 1,88%, disusul kesehatan 0,83%, teknologi 0,57%, finansial 0,47%, dan industri 0,05%.
Sementara itu, sektor yang tertekan antara lain bahan baku -1,67%, utilitas -1,65%, energi -0,64%, dan konsumer primer -0,35%.
Dari jajaran saham, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi penopang utama IHSG dengan kontribusi 8,65 poin, disusul PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) sebesar 6,39 poin, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 4,69 poin.
PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga masih memberikan kontribusi positif masing-masing 2,05 poin dan 1,74 poin.
Di sisi lain, tekanan terbesar datang dari PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang memangkas 3,22 poin IHSG. Selanjutnya PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Astra International Tbk (ASII) masing-masing menekan 3,03 poin.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga masuk jajaran pemberat IHSG dengan kontribusi negatif 1,55 poin, diikuti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 1,43 poin.
Dengan demikian, meski sejumlah saham perbankan seperti BBCA, BMRI, dan BSIM masih menopang indeks, tekanan dari saham komoditas dan sejumlah saham berkapitalisasi besar membuat IHSG harus berakhir di zona merah pada sesi I.
Adapun IHSG menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini seiring kembali memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak serta imbal hasil obligasi global.
Harga Brent melonjak 4,6% ke US$94,65 per barel dan WTI naik 0,6% menjadi US$90,77 per barel pada perdagangan Selasa. Sementara itu, yield US Treasury 10 tahun naik ke 4,788%, level tertinggi dalam 20 bulan. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan prospek suku bunga global.
Dari domestik, sentimen juga belum sepenuhnya positif. PMI manufaktur Indonesia kembali masuk zona kontraksi dengan level 49,8 pada Agustus, sementara inflasi naik menjadi 0,21% secara bulanan dan 3,19% secara tahunan.
Di sisi lain, neraca perdagangan kembali surplus US$110 juta pada Juli, meski jauh lebih tipis dibandingkan surplus kumulatif tahun sebelumnya.
(mkh/mkh)


















