Jakarta, CNBC Indonesia – Rencana impor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang mulai memasuki tahap persiapan pengadaan. KAI Commuter menargetkan realisasi kedatangan armada tersebut dilakukan secara bertahap mulai akhir 2026.
Target tersebut berjalan bersamaan dengan proses koordinasi lintas kementerian yang harus ditempuh sebelum KRL bekas dapat didatangkan. Proses ini menjadi bagian dari persiapan impor barang modal tidak baru atau BMTB.
“Target secara bertahap terealisasi mulai akhir tahun 2026 ini,” ujar VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, kepada CNBC Indonesia, Sabtu (26/9/2026).
Kebutuhan tambahan armada muncul di tengah lonjakan jumlah pengguna KRL Jabodetabek. Pada semester I-2026, jumlah penumpang tumbuh sekitar 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rata-rata pengguna mencapai 1,1 juta orang per hari dan pada kondisi tertentu menyentuh 1,3 juta penumpang.
Di sisi lain, usia armada menjadi persoalan yang ikut mendorong kebutuhan pengadaan. KAI mengungkapkan terdapat sekitar 92 trainset yang telah berusia 40 tahun, sementara hingga 2031 diperkirakan ada 87 trainset yang perlu diganti.
“Koordinasi kami lakukan dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan tentunya kami akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Teknis terkait yaitu Kementerian Perhubungan,” kata Karina.
TANJUNG PRIOK, JAKARTA, INDONESIA – 2015/05/05: Some officers assisted heavy equipment lowered railroad cars at the Port of Tanjung Priok. PT KAI Commuter Jabodetabek (KJC) bring 32 units of KRL purchased a used 205 series from Japan. The train is the first stage of the delivery program for the procurement of 176 units of KRL 2014. (Photo by Garry Andrew Lotulung/Pacific Press/LightRocket via Getty Images) Foto: LightRocket via Getty Images/Pacific Press
|
KAI sebelumnya mengusulkan 23 trainset KRL bukan baru dari Jepang sebagai solusi sementara untuk mengejar kebutuhan kapasitas angkutan. Jumlah tersebut terdiri atas tujuh trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8.
Pilihan formasi tersebut juga menyesuaikan kondisi infrastruktur. Tidak semua stasiun mampu menampung rangkaian 12 kereta, sehingga komposisi armada yang didatangkan perlu disesuaikan dengan karakteristik jalur dan panjang peron.
“Untuk usia kereta masih dalam pembahasan dan konfirmasi dengan pihak operator di Jepang,” ujar Karina.
Kepastian usia armada menjadi salah satu informasi yang masih ditunggu dalam proses persiapan tersebut. Sebelumnya, KAI menyebut impor KRL bekas hanya akan menjadi jembatan sembari industri perkeretaapian dalam negeri meningkatkan kapasitas produksinya.
Rencana impor ini juga telah mendapat persetujuan Komisi VI DPR RI dalam rapat bersama KAI pada 23 September 2026. Impor 23 trainset tersebut ditempatkan sebagai bagian dari solusi pemenuhan kapasitas KRL Jabodetabek, sementara penguatan industri dalam negeri tetap berjalan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi buka suara mengenai rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengimpor kereta rel listrik (KRL) impor bekas dari Jepang untuk menambah armada KRL Jabodetabek.
Dudy mengatakan hingga saat ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum menerima pengajuan resmi dari KAI terkait rencana tersebut. Dengan demikian, belum ada pembahasan lebih lanjut di Kemenhub mengenai rencana impor KRL bekas itu.
“KAI belum masukin ke saya,” ujar Dudy di gedung DPR, Kamis (24/9/2026).
(fys/wur)




















