• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah

Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok Diatas 2%

Breaking! IHSG Anjlok Diatas 2%

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok di Atas 1%

Breaking! IHSG Anjlok di Atas 1%

October 15, 2026
Suroso Isnandar Jadi Bos Baru PLN, Manajemen Buka Suara

Suroso Isnandar Jadi Bos Baru PLN, Manajemen Buka Suara

October 15, 2026
Waskita Beton (WSBP) Mau Ubah Utang Jadi Saham, Nilainya Rp1,71 T

Waskita Beton (WSBP) Mau Ubah Utang Jadi Saham, Nilainya Rp1,71 T

October 15, 2026
IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
IHSG Anjlok Diatas 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok Diatas 1%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok Diatas 1%

Breaking! IHSG Anjlok Diatas 1%

October 15, 2026
Gelar RUPSLB, Emiten Favorit Lo Kheng Hong ABMM Mau Ganti Direksi

Gelar RUPSLB, Emiten Favorit Lo Kheng Hong ABMM Mau Ganti Direksi

October 15, 2026
Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp17.900

Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp17.900

October 15, 2026
IHSG Dibuka Melemah 0,44% di Awal Sesi I

IHSG Dibuka Melemah 0,44% di Awal Sesi I

October 15, 2026
IHSG Ditutup Menguat 0,29% ke Level 5.948

IHSG Ditutup Menguat 0,29% ke Level 5.948

October 15, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Thursday, October 15, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah

2 hours ago
in ENTREPRENEUR
Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor eksternal yang menekan nilai tukar Rupiah, mulai dari inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan hingga ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang membuat harga minyak dunia bertahan di atas US$105 per barel.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin G. Hutapea mengatakan, kenaikan inflasi AS mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mengambil kebijakan suku bunga yang lebih agresif.

Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah turut menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko fiskal ke depan.

“Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” kata Erwin dalam pernyataan tertulis terkait perkembangan nilai tukar Rupiah, Kamis (15/10/2026).

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang juga tercermin dari pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang sempat meningkat tajam hingga mencapai level tertinggi sejak Mei 2025. 

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.900/US$ atau melemah tipis 0,03% dibandingkan penutupan Rabu (14/10/2026) di Rp17.895/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,47% ke posisi 102,068.

Di pasar obligasi, imbal hasil atau yield US Treasury tenor dua tahun sempat naik 12 basis poin (bps) ke level 4,90%. Kenaikan yield obligasi AS membuat aset berbasis dolar semakin menarik bagi investor, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap aliran modal di pasar negara berkembang.

Meski menghadapi tekanan eksternal, BI menilai pergerakan Rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), Rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,17%.

Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa Indonesia juga masih terjaga. BI mencatat cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

BI Terus Intervensi Jaga Rupiah

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menegaskan akan terus hadir di pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan pergerakan Rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.

Erwin menjelaskan, intervensi dilakukan secara konsisten melalui sejumlah instrumen, baik di pasar domestik maupun luar negeri.

Di pasar offshore, BI melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF). Sementara di pasar domestik, intervensi dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk mendukung stabilitas pasar keuangan.

BI turut mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar juga terus dilakukan secara intensif.

Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat perkembangan inflasi AS, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi harga energi dan arus modal internasional.

(haa/haa)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok Diatas 2%

Breaking! IHSG Anjlok Diatas 2%

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok di Atas 1%

Breaking! IHSG Anjlok di Atas 1%

October 15, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .