
Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Keuangan memastikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif aman meski sudah naik ke level 7% usai potensi Morgan Stanley Capital International menurunkan status pasar saham menjadi kategori standalone.
Menurutnya, yield tersebut masih tergolong kompetitif bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Eropa. Sebagai gambaran, melansir data Refinitiv, pada perdagangan Rabu (21/10/2026), imbal hasil SBN pemerintah tenor 10 tahun ditutup melonjak ke level 7,446%. Sementara, imbal hasil obligasi Jerman 10 tahun berada pada level 3,3546%.
Kenaikan imbal hasil yang tajam menunjukkan investor kini meminta keuntungan yang lebih tinggi untuk bersedia memegang surat utang pemerintah.
“Relatif masih aman. Kalau dibandingkan dengan negara terutama Eropa sekarang ya yang cukup dire (mengerikan). Jadi percaya dirilah di Indonesia. Percaya diri sama kita sendiri, karena ini adalah negara kita dan kita adalah negara besar,” ujar Herman kepada awak media, Kamis (22/10/2026).
Meski demikian, Herman tidak menjelaskan apakah kenaikan yield tersebut masih bisa ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Sekadar catatan, pemerintah menetapkan suku bunga SBN 10 tahun pada level 6,9%.
Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Jumat (16/10/2026) mengumumkan rencana konsultasi untuk mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
MSCI menyoroti sejumlah persoalan dalam pasar saham Indonesia, terutama kurangnya keterbukaan struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan yang terkoordinasi, hingga belum terlihatnya hasil penegakan aturan yang dinilai cukup berarti.
Meskipun otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan berbagai langkah perbaikan, MSCI menilai hasilnya belum terlihat secara konsisten.
Indonesia kini memiliki waktu untuk menunjukkan perbaikan sebelum keputusan akhir mengenai kemungkinan perubahan status tersebut diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
Pengumuman tersebut langsung mengguncang pasar saham Indonesia. IHSG mengalami penurunan tajam selama dua hari perdagangan, sementara rupiah juga terus menghadapi tekanan terhadap dolar AS.
Meski peringatan MSCI secara langsung ditujukan kepada pasar saham, kekhawatiran yang muncul berpotensi meluas ke instrumen keuangan lainnya, termasuk obligasi pemerintah.
Pasalnya, investor asing tidak hanya melihat besarnya keuntungan yang ditawarkan suatu negara. Mereka juga mempertimbangkan keterbukaan informasi, kepastian aturan, serta kemampuan pemerintah dalam menjaga kepercayaan terhadap iklim investasi.
(haa/haa)



















