• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Rupiah Parkir di Rp 18.140 per Dolar AS

Rupiah Parkir di Rp 18.140 per Dolar AS

November 2, 2026
Bos Bank JTrust (BCIC) Pamit Mundur usai 7 Tahun Menjabat

Bos Bank JTrust (BCIC) Pamit Mundur usai 7 Tahun Menjabat

November 4, 2026
PGEO Kaji Masuk Listrik Data Center, Ini Kabar Terbarunya

PGEO Kaji Masuk Listrik Data Center, Ini Kabar Terbarunya

November 4, 2026
Harga & Durability Jadi Kunci

Harga & Durability Jadi Kunci

November 4, 2026
Review MSCI Membayangi, IHSG Berhasil Ditutup Menguat di 4.900

Review MSCI Membayangi, IHSG Berhasil Ditutup Menguat di 4.900

November 4, 2026
Pemilik Mobil EV Catat! Asuransi Terima Sederet Kasus Klaim Ini

Pemilik Mobil EV Catat! Asuransi Terima Sederet Kasus Klaim Ini

November 4, 2026
14 Ladang Panas Bumi Dibuka, PGEO Mau Masuk?

14 Ladang Panas Bumi Dibuka, PGEO Mau Masuk?

November 4, 2026
Kejar Target Free Float Saham 12,5% di 2027, PGEO Tak Mau Buyback

Kejar Target Free Float Saham 12,5% di 2027, PGEO Tak Mau Buyback

November 4, 2026
Aliran Modal Asing Masuk Rp126 Triliun, SBN & SRBI Jadi Primadona

Aliran Modal Asing Masuk Rp126 Triliun, SBN & SRBI Jadi Primadona

November 4, 2026
IHSG Ditutup Menguat 0,32% ke 4.919,77

IHSG Ditutup Menguat 0,32% ke 4.919,77

November 4, 2026
Produksi Cetak Rekor, PGEO Kebut Proyek Panas Bumi 105 MW

Produksi Cetak Rekor, PGEO Kebut Proyek Panas Bumi 105 MW

November 4, 2026
IHSG Bangkit, 3 Saham BUMN Jadi Penyelamat di Menit Akhir

IHSG Bangkit, 3 Saham BUMN Jadi Penyelamat di Menit Akhir

November 4, 2026
Rupiah Ditutup di Level Rp18.155 per Dolar AS

Rupiah Ditutup di Level Rp18.155 per Dolar AS

November 4, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Wednesday, November 4, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home Market

Rupiah Parkir di Rp 18.140 per Dolar AS

2 days ago
in Market
Rupiah Parkir di Rp 18.140 per Dolar AS
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah mengakhiri perdagangan pertama awal November ini di zona merah. Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), setelah mencatat penguatan selama dua hari berturut-turut pada akhir pekan lalu.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,11% ke posisi Rp18.140/US$ pada Senin (2/11/2026). Tekanan sejatinya sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, ketika rupiah dibuka turun 0,03% ke level Rp18.125/US$. Pelemahan kemudian melebar hingga rupiah sempat menyentuh Rp18.175/US$.

Hingga penutupan, rupiah berhasil memangkas pelemahannya sebesar 35 poin dari posisi terlemah hari ini. 

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,13% ke posisi 101,745.


Rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar AS di pasar global. Koreksi DXY yang biasanya membuka ruang penguatan bagi mata uang lain belum cukup membawa mata uang Garuda keluar dari zona merah.

Pelaku pasar global cenderung menahan langkah menjelang sejumlah agenda penting pekan ini. Salah satu perhatian utama adalah pemilu sela AS pada Selasa, yang akan menentukan keseimbangan kekuatan di Kongres.

Hasil pemilu tersebut dapat memengaruhi kemampuan pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menjalankan kebijakan anggaran, perpajakan, dan belanja negara.

Adapun, dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 3,23%, melandai dari 3,28% pada September dan sedikit lebih rendah dibandingkan konsensus pasar sebesar 3,25%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, inflasi tahunan tersebut terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.

Meski melandai, inflasi masih berada di bagian atas rentang sasaran BI dan pemerintah sebesar 1,5%-3,5%. Kondisi ini membuat perkembangan harga tetap perlu dicermati dalam menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur memberikan kabar positif. PMI manufaktur Indonesia naik menjadi 54,0 pada Oktober, tertinggi dalam delapan bulan terakhir, ditopang peningkatan pesanan baru dan ekspor.

Namun, kenaikan biaya bahan baku dan harga jual produsen menunjukkan tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Pelaku pasar pun masih menimbang perbaikan kegiatan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang tetap tinggi.

(evw/evw)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Bos Bank JTrust (BCIC) Pamit Mundur usai 7 Tahun Menjabat

Bos Bank JTrust (BCIC) Pamit Mundur usai 7 Tahun Menjabat

November 4, 2026
PGEO Kaji Masuk Listrik Data Center, Ini Kabar Terbarunya

PGEO Kaji Masuk Listrik Data Center, Ini Kabar Terbarunya

November 4, 2026
Harga & Durability Jadi Kunci

Harga & Durability Jadi Kunci

November 4, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .