Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melesat pada perdagangan Jumat (3/7/2026), melanjutkan kenaikan yang dicatatkan IHSG pada perdagangan hari sebelumnya.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG naik 1,07% atau menguat 61 poin ke level 5.806,17. Sekitar tiga puluh menit setelah pasar buka, IHSG tercatat melaju lebih kencang hingga 2,39% lebih mencapai level 5.881.
Nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp 2,59 triliun dengan volume perdagangan 5,57 miliar saham yang diperdagangkan dalam 358 ribu kali transaksi. Sebanyak 460 saham menguat, 101 saham melemah, sementara 155 saham bergerak stagnan.
Adapun emiten dengan nilai transaksi terbesar pada awal perdagangan hari ini adalah BBCA, BBRI, BMRI, BRPT dan TPIA.
Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan menguat dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor utilitas, barang baku, finansial dan Teknologi.
Saham-saham blue chip, khususnya perbankan dan BUMN, kompak melesat signifikan dan menjadi penggerak utama kinerja IHSG hari ini. Selain itu, saham-saham konglomerat juga menguat signifikan dan ikut menopang gerak cepat IHSG hari ini.
Bank Central Asia tercatat menjadi penopang utama kinerja IHSG dan berkontribusi atas penguatan 13,27 indeks poin. Lalu ada Bank Mandiri (BMRI) dengan penguatan 9 indeks poin. Emiten perbankan lain yang juga ikut mendorong IHSG ke atas termasuk Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 4,39 poin dan Bank Negara Indonesia (BBNI) 2,98 indeks poin.
Emiten konglomerat yang menjadi pendorong utama kinerja IHSG hari ini termasuk AMMN, BREN dan DCII.
Emiten blue chip Astra International (ASII) hari ini menyumbang kenaikan 5,72 indeks poin dan dua emiten BUMN yakni Aneka Tambang (ANTM) dan Telkom Indonesia (TLKM) masing-masing menyumbang sekitar 3 poin.
Tercatat seluruh emiten BUMN yang aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia menguat hari ini. Penguatan tersebut sejalan dengan pengumuman Danantara telah menyelesaikan seluruh laporan keuangan BUMN per Desember 2025 dan menggarisbawahi kinerja BUMN yang melesat dalam setahun terakhir hingga April 2026.
Saham emiten konglomerat juga kompak melesat, dengan seluruh saham Grup Barito Prajogo Pengestu dan Grup Bakrie semuanya bergerak di zona merah.
Emiten perbankan besar (KBMI III dan IV) seluruhnya menguat, dengan emiten tambang emas dan tambang nikel juga seluruhnya menguat.
Menjelang akhir perdagangan pekan ini, pasar keuangan Indonesia mendapatkan sejumlah kabar baik dari Amerika Serikat yang akan memeringat hari kemerdekaan ke -250 pada besok Sabtu (4/7/2026).
Data tenaga kerja AS terbaru memberikan sinyal campuran, tetapi secara umum memberi sinyal bahwa ekonomi AS mulai mendingin. Kondisi ini membuat The Fed lebih mungkin mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya sambil terus memantau perkembangan inflasi. Jika beberapa bulan ke depan pasar tenaga kerja terus melemah dan inflasi ikut mereda maka ini mengurangi urgensi untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Di sisi lain, indeks dolar AS juga melemah ke 100,856 atau posisi terendahnya sejak 19 Juni 2026. Kondisi ini akan menandai investor tengah melepas dolar sehingga diharapkan berdampak positif ke rupiah.
Kabar ini diharapkan menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia.
Sementara itu, pergerakan bursa saham Asia-Pasifik cenderung bervariasi pada perdagangan Jumat (4/7/2026), di tengah berlanjutnya aksi rotasi investor keluar dari saham-saham teknologi. Sentimen tersebut mengikuti pelemahan sektor teknologi dan semikonduktor di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 dibuka melemah 0,86%. Sementara itu, indeks Topix justru menguat 0,34% pada awal perdagangan.
Bursa Korea Selatan bergerak campuran, dengan indeks Kospi naik 0,97%. Di sisi lain, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq terkoreksi 1,12%.
Pasar saham Australia turut bergerak positif pada awal perdagangan. Indeks S&P/ASX 200 tercatat menguat 0,42%.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 23.061. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level 23.055,03.
Pergerakan bursa Asia terjadi setelah pasar saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada Kamis waktu setempat. Indeks Dow Jones mencetak rekor penutupan tertinggi baru setelah laporan ketenagakerjaan Juni yang lebih lemah dari perkiraan meningkatkan harapan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 594,83 poin atau 1,14% ke level rekor 52.900,07. Bahkan, indeks tersebut sempat menyentuh rekor intraday baru di posisi 52.903,85.
Sementara itu, indeks S&P 500 bergerak nyaris stagnan dengan kenaikan kurang dari satu poin dan ditutup di level 7.483,24. Adapun indeks Nasdaq justru terkoreksi 0,8% ke posisi 25.832,67.
(fsd/fsd)
Add
as a preferred
source on Google


















