• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun

Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun

September 25, 2026
Gegara Nguping, Suami-Istri Ini Untung dari Saham Rp29 Miliar

Gegara Nguping, Suami-Istri Ini Untung dari Saham Rp29 Miliar

September 26, 2026
Danantara Mau Pegang Saham BEI, Ini Update Terbarunya

Danantara Mau Pegang Saham BEI, Ini Update Terbarunya

September 26, 2026
Petani RI Temukan Emas 16 Kg di Sawah

Petani RI Temukan Emas 16 Kg di Sawah

September 26, 2026
15 Bank di RI Resmi Tutup per September 2026, Ini Daftarnya

15 Bank di RI Resmi Tutup per September 2026, Ini Daftarnya

September 26, 2026
Komisaris Medco Energi Internasional (MEDC) Ini Lepas 4,5 Miliar Saham

Komisaris Medco Energi Internasional (MEDC) Ini Lepas 4,5 Miliar Saham

September 25, 2026
Potensi Besar! Valbury Ungkap Alasan Banyak Investor Melirik Saham AS

Potensi Besar! Valbury Ungkap Alasan Banyak Investor Melirik Saham AS

September 25, 2026
Bareskrim Tangkap DPO Kasus Judi Online di Thailand, Ini Penampakannya

Bareskrim Tangkap DPO Kasus Judi Online di Thailand, Ini Penampakannya

September 25, 2026
Dikabarkan Mau Dicaplok Haji Isam, BCA Buka Suara

Dikabarkan Mau Dicaplok Haji Isam, BCA Buka Suara

September 25, 2026
Dituduh PHK Sepihak, Bank Maybank Indonesia (BNII) Buka Suara

Dituduh PHK Sepihak, Bank Maybank Indonesia (BNII) Buka Suara

September 25, 2026
OJK Cabut Izin Usaha BPRS Musyawarah Ummat Indonesia

OJK Cabut Izin Usaha BPRS Musyawarah Ummat Indonesia

September 25, 2026
OJK Siapkan Aturan Dapen Boleh Investasi di Luar Negeri, Ini Alasannya

OJK Siapkan Aturan Dapen Boleh Investasi di Luar Negeri, Ini Alasannya

September 25, 2026
Transaksi Bayan-Haji Isam di Bawah Harga Pasar, OJK Buka Suara

Transaksi Bayan-Haji Isam di Bawah Harga Pasar, OJK Buka Suara

September 25, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Saturday, September 26, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home Market

Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun

1 day ago
in Market
Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Aksi jual di pasar obligasi global kembali berlanjut. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi, tingginya harga energi, serta peningkatan belanja pemerintah.

Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 30 tahun naik hingga 5,48% pada Kamis, level tertinggi sejak 2004. Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun mencapai 5,20%.

Kenaikan yield tersebut menunjukkan harga obligasi yang semakin tertekan. Pasar obligasi global sendiri telah mengalami tekanan selama berbulan-bulan.

Kondisi tersebut terjadi ketika investor menghadapi kombinasi sejumlah faktor, mulai dari tingginya biaya energi, pertumbuhan ekonomi AS yang masih kuat, hingga kekhawatiran mengenai peningkatan belanja pemerintah. Perang Iran juga menjadi salah satu faktor yang mendorong harga energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Yield 10 Tahun Jadi Sorotan

Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah yield Treasury AS tenor 10 tahun menembus level 5% pada bulan ini. Level tersebut tergolong tinggi dan jarang dicapai dalam beberapa dekade terakhir.

Kini, pasar mulai memperhatikan level 6% sebagai “ambang berikutnya” yang dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan dan perusahaan AS. Kenaikan imbal hasil juga mulai terasa pada sektor rumah tangga.

Suku bunga hipotek AS tenor 30 tahun kini berada di sekitar 7%, sekitar satu poin persentase lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, dan berada di kisaran tertinggi dalam dua tahun terakhir. Suku bunga hipotek adalah bunga yang dikenakan atas pinjaman untuk membeli rumah atau properti, yang biasanya dijamin dengan properti tersebut.

Sebenarnya, sejak pertemuan kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed/Fed) pada Juni, yield Treasury 10 tahun telah meningkat sekitar 0,70 poin persentase. Jika dihitung sejak awal Maret, kenaikannya mencapai sekitar 1,25 poin persentase.

“Sebagian besar kenaikan imbal hasil sejak Maret didorong oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, sementara sisanya didorong oleh kombinasi antara ekspektasi pertumbuhan yang meningkat dan harga minyak yang lebih tinggi,” ujar kepala strategi suku bunga AS di TD Securities, Gennadiy Goldberg, dalam catatan risetnya, sebagaimana dimuat Reuters, Jumat (25/9/2026).

Data aktivitas bisnis terbaru yang menunjukkan perekonomian AS masih tumbuh kuat, bersamaan dengan meningkatnya tekanan inflasi, turut meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Ekonomi AS Masih Tangguh

Berbeda dengan obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, yield Treasury tenor 30 tahun mencerminkan tingkat imbal hasil yang diminta investor untuk memberikan pembiayaan kepada pemerintah AS dalam jangka panjang.

“Kita melihat adanya penyesuaian harga (repricing) pada beberapa hal-pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh, dan itu menjadi alasan yang lebih positif mengapa kita berada dalam lingkungan suku bunga bebas risiko yang lebih tinggi,” kata Kepala strategi investment grade dan makro di CreditSights, Zachary Griffiths.

Sejauh ini, pasar saham AS masih mampu menyerap kenaikan yield. Pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, kenaikan laba perusahaan, serta besarnya investasi terkait ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih menjadi penopang sentimen investor.

Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi bahkan sempat mencetak rekor tertinggi pada Selasa. Namun, tingginya yield obligasi dapat meningkatkan biaya pendanaan bagi pemerintah, perusahaan, maupun rumah tangga.

Yield Obligasi Dunia Ikut Naik

Tekanan tidak hanya terjadi di AS. Sejumlah negara ekonomi besar juga menghadapi kenaikan biaya pembiayaan di tengah kebutuhan belanja pemerintah yang semakin besar.

Di Jerman, otoritas keuangan memperkirakan pinjaman pemerintah federal mencapai rekor €525,5 miliar atau sekitar US$598 miliar pada 2026. Kebutuhan tersebut terutama didorong oleh pembiayaan kembali utang dan meningkatnya kebutuhan pendanaan.

Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun bahkan sempat menembus 3,6% bulan ini, level tertinggi dalam 17 tahun. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada Kamis juga mencapai level tertinggi sejak 1996.

Sementara itu, pertumbuhan nominal ekonomi AS berada di kisaran 8% pada kuartal II-2026, menunjukkan perekonomian masih cukup kuat meski biaya pinjaman meningkat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan disebut telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam kenaikan biaya pinjaman. Namun, upaya tersebut belum mampu menghentikan kenaikan yield obligasi jangka panjang.

“Obligasi pemerintah AS bersaing dengan instrumen pasar lainnya untuk mendapatkan pembeli, jadi pertanyaannya adalah, seberapa tinggi lagi imbal hasilnya bisa naik?” ujar ahli strategi pasar global SMBC EMEA, Hank Calenti.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams pada Kamis mengatakan ekonomi AS menunjukkan “ketahanan yang luar biasa”. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat investor terus menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga dan inflasi AS, sementara pasar obligasi global menghadapi tekanan yang semakin besar.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Gegara Nguping, Suami-Istri Ini Untung dari Saham Rp29 Miliar

Gegara Nguping, Suami-Istri Ini Untung dari Saham Rp29 Miliar

September 26, 2026
Danantara Mau Pegang Saham BEI, Ini Update Terbarunya

Danantara Mau Pegang Saham BEI, Ini Update Terbarunya

September 26, 2026
Petani RI Temukan Emas 16 Kg di Sawah

Petani RI Temukan Emas 16 Kg di Sawah

September 26, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .