• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Konglomerat Bisnis Terkaya Goyang Gegara Perintah Bank Sentral

Konglomerat Bisnis Terkaya Goyang Gegara Perintah Bank Sentral

September 28, 2026
Video: Sinyal Hawkish The Fed – Rupiah Menguat dan IHSG Dekati 6.200-an

Video: Sinyal Hawkish The Fed – Rupiah Menguat dan IHSG Dekati 6.200-an

September 30, 2026
Breaking! Rupiah Menguat 0,53%, Dolar AS Turun ke Rp17.865

Breaking! Rupiah Menguat 0,53%, Dolar AS Turun ke Rp17.865

September 30, 2026
BSI (BRIS) Mau Rights Issue, Terbitkan 6,8 Miliar Saham

BSI (BRIS) Mau Rights Issue, Terbitkan 6,8 Miliar Saham

September 30, 2026
BTN (BBTN) Terbitkan Obligasi Sosial Rp2 Triliun, Kupon hingga 7,25%

BTN (BBTN) Terbitkan Obligasi Sosial Rp2 Triliun, Kupon hingga 7,25%

September 30, 2026
Hendro Martowardojo Borong 707 Ribu Saham DGIK di Harga Rp135-136

Hendro Martowardojo Borong 707 Ribu Saham DGIK di Harga Rp135-136

September 30, 2026
Tok! LPS Pertahankan Bunga Penjaminan Bank di 3,75%

Tok! LPS Pertahankan Bunga Penjaminan Bank di 3,75%

September 30, 2026
Ada Akuisisi 35% Saham, KETR Umumkan Pengendali Baru

Ada Akuisisi 35% Saham, KETR Umumkan Pengendali Baru

September 30, 2026
IHSG Naik 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Naik 1%, Ini Penyebabnya

September 30, 2026
IHSG Naik 1% di Sesi I, Ini Penyebabnya

IHSG Naik 1% di Sesi I, Ini Penyebabnya

September 30, 2026
Update Terbaru Klaim Asuransi KM Virgo Transport 8, Kapal Mau Diangkat

Update Terbaru Klaim Asuransi KM Virgo Transport 8, Kapal Mau Diangkat

September 30, 2026
Ada Akuisisi 35% Saham, KETR Umumkan Pengendari Baru

Ada Akuisisi 35% Saham, KETR Umumkan Pengendari Baru

September 30, 2026
Breaking! IHSG Naik 1%

Breaking! IHSG Naik 1%

September 30, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Wednesday, September 30, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home Market

Konglomerat Bisnis Terkaya Goyang Gegara Perintah Bank Sentral

2 days ago
in Market
Konglomerat Bisnis Terkaya Goyang Gegara Perintah Bank Sentral
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Salah satu konglomerat tertua di India, Tata Group, tengah dilanda konflik internal. Pemicunya adalah dorongan regulator agar induk usaha grup, Tata Sons, melantai di bursa saham. Perbedaan sikap soal rencana tersebut kini berujung pada perseteruan terbuka antara Noel Tata dan Chairman Tata Sons, N. Chandrasekaran.

Dikutip dari The Wall Street Journal, dewan direksi Tata Sons pada 17 September lalu memutuskan memberi Chandrasekaran masa jabatan ketiga. Empat anggota dewan mengalahkan suara Noel Tata. Noel menilai pemungutan suara itu tidak sah, sementara dewan menolak klaim tersebut.

Perselisihan ini berakar dari keputusan Reserve Bank of India (RBI) pada 2022. Bank sentral India meminta Tata Sons mencatatkan sahamnya di bursa sesuai aturan baru bagi perusahaan investasi yang dianggap penting secara sistemik. Tata Sons masuk kategori itu karena memiliki saham di berbagai anak usaha Tata dan dapat menyuntikkan modal ke dalamnya.

RBI disebut kembali menegaskan perintah tersebut beberapa hari sebelum rapat dewan. Manajemen Tata Sons di bawah Chandrasekaran menyatakan akan patuh. Dewan pun menyatakan akan mengikuti arahan bank sentral.

Sikap berbeda datang dari Noel Tata, yang memimpin Tata Trusts sejak 2024. Kelompok yayasan amal itu menguasai sekitar dua pertiga saham Tata Sons. Dalam rapat dewan, Noel menyebut grup itu dibangun sebagai “pengabdian nasional yang dijalankan lewat bisnis”. Menurutnya, struktur kepemilikan saat ini yang menjaga misi tersebut tetap hidup.

Dividen Tata Sons mengalir ke Tata Trusts hingga ratusan juta dolar AS per tahun. Pada tahun yang berakhir Maret 2025, trust membelanjakan lebih dari US$100 juta (sekitar Rp1,78 triliun) untuk pendidikan, kesehatan, dan program sosial lain.

Voting ini menjadi titik balik bagi Chandrasekaran, yang memimpin Tata Sons sejak 2017. Sebelumnya ia menyatakan akan mundur pada akhir masa jabatan Februari mendatang, dengan alasan tidak mendapat dukungan dari salah satu anggota dewan yang tidak ia sebutkan namanya. Noel Tata diyakini luas sebagai sosok yang dimaksud.

Namun dalam rapat 17 September, seluruh anggota dewan selain Noel mendukung perpanjangan masa jabatannya. Termasuk Venu Srinivasan, yang bersama Noel mewakili Tata Trusts di dewan Tata Sons. Chandrasekaran sebenarnya berharap dipilih secara aklamasi, tetapi bersedia bertahan. Menurut sumber yang mengetahui pemikirannya, ia menimbang momentum penting perusahaan, mulai dari investasi besar hingga mandat listing.

Pergolakan ini mulai terasa di pasar. Sebanyak 26 perusahaan tercatat milik Tata memiliki kapitalisasi pasar hampir US$280 miliar (sekitar Rp4.995 triliun) pada Maret. Dalam beberapa pekan terakhir, kisruh kepemimpinan menekan harga saham sejumlah perusahaan grup.

Pendukung listing menilai langkah ini akan meningkatkan transparansi penggunaan dana dan membuka akses Tata Sons menghimpun modal langsung. Kebutuhan itu besar, terutama untuk ekspansi di semikonduktor dan manufaktur elektronik, serta upaya memulihkan maskapai Air India yang merugi. Tata juga merupakan satu-satunya perakit iPhone asal India untuk Apple.

Deven Choksey, Managing Director DRChoksey FinServ, menyoroti ketergantungan grup pada Tata Consultancy Services (TCS) sebagai penopang laba utama. Ia mengingatkan, kinerja TCS bisa lebih fluktuatif jika kecerdasan buatan menggeser layanan sistem back-office yang menjadi bisnis intinya. Tanpa listing, ia mempertanyakan dari mana pendanaan investasi sebesar itu akan datang.

Harish Salve, pengacara yang menasihati Tata Sons dan Chandrasekaran, menyebut dorongan listing bertujuan memastikan perusahaan bersumber dana publik besar dikelola dengan standar tata kelola tertinggi. Shapoorji Pallonji Group, pemegang sekitar 18% saham Tata Sons yang ingin melepas sebagian kepemilikannya, menyambut baik langkah RBI.

Sejumlah pakar tata kelola menilai gejolak ini tak lepas dari suksesi bertahap mendiang Ratan Tata, kakak tiri Noel yang wafat pada 2024. Ratan melepas kursi chairman Tata Sons bertahun-tahun sebelumnya, tetapi tetap memimpin trust hingga akhir hayat. Shriram Subramanian, Managing Director InGovern Research Services, menilai gangguan akan lebih kecil bila Noel diberi kesempatan mengambil alih trust lebih awal saat Ratan masih hidup.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Video: Sinyal Hawkish The Fed – Rupiah Menguat dan IHSG Dekati 6.200-an

Video: Sinyal Hawkish The Fed – Rupiah Menguat dan IHSG Dekati 6.200-an

September 30, 2026
Breaking! Rupiah Menguat 0,53%, Dolar AS Turun ke Rp17.865

Breaking! Rupiah Menguat 0,53%, Dolar AS Turun ke Rp17.865

September 30, 2026
BSI (BRIS) Mau Rights Issue, Terbitkan 6,8 Miliar Saham

BSI (BRIS) Mau Rights Issue, Terbitkan 6,8 Miliar Saham

September 30, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .