• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Euro Anjlok ke Level Terendah 17 Bulan, Obligasi Prancis Diobral

Euro Anjlok ke Level Terendah 17 Bulan, Obligasi Prancis Diobral

October 6, 2026
BUMN Ini Ungkap Strategi Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik

BUMN Ini Ungkap Strategi Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik

October 7, 2026
Ekonomi Biru RI Punya Potensi Besar, Pembiayaan Jadi Kunci Utama

Ekonomi Biru RI Punya Potensi Besar, Pembiayaan Jadi Kunci Utama

October 7, 2026
Tok! Biaya Haji 2027 Disepakati Rp98,46 Juta

Tok! Biaya Haji 2027 Disepakati Rp98,46 Juta

October 7, 2026
DPR Sepakat Biaya Haji 2027 Rp98,46 Juta, Subsidi Pemerintah Rp3 Juta

DPR Sepakat Biaya Haji 2027 Rp98,46 Juta, Subsidi Pemerintah Rp3 Juta

October 7, 2026
Tanoko Borong 1,79 Juta Saham AVIA di Harga Rp330, Ini Alasannya

Tanoko Borong 1,79 Juta Saham AVIA di Harga Rp330, Ini Alasannya

October 7, 2026
Investor Siap-Siap, Mau Ada Pengumuman Penting Dari Indofarma (INAF)

Investor Siap-Siap, Mau Ada Pengumuman Penting Dari Indofarma (INAF)

October 7, 2026
Emiten Konstruksi RI Ini Akuisisi Saham Global Pacific Indonesia

Emiten Konstruksi RI Ini Akuisisi Saham Global Pacific Indonesia

October 7, 2026
IHSG Ditutup Melemah 0,75% ke Level 6.146, Terbebani Saham BYAN

IHSG Ditutup Melemah 0,75% ke Level 6.146, Terbebani Saham BYAN

October 7, 2026
Video: Nasib Rupiah Saat Perang & Efeknya ke Dunia Usaha

Video: Nasib Rupiah Saat Perang & Efeknya ke Dunia Usaha

October 7, 2026
Bos OJK & Dirut KB Bank Buka Suara Soal Isu Diakuisisi Induk Koperasi

Bos OJK & Dirut KB Bank Buka Suara Soal Isu Diakuisisi Induk Koperasi

October 7, 2026
Rupiah Menguat Tipis, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp17.875

Rupiah Menguat Tipis, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp17.875

October 7, 2026
LPS Ubah Aturan Biaya Perjalanan Dinas Hingga Rapat di Tahun 2027

LPS Ubah Aturan Biaya Perjalanan Dinas Hingga Rapat di Tahun 2027

October 7, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Wednesday, October 7, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home News

Euro Anjlok ke Level Terendah 17 Bulan, Obligasi Prancis Diobral

1 day ago
in News
Euro Anjlok ke Level Terendah 17 Bulan, Obligasi Prancis Diobral
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar euro terperosok ke level terendah dalam 17 bulan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (5/10/2026). Tekanan datang dari aksi jual obligasi pemerintah Prancis yang menggoyang pasar zona euro, yang sebelumnya sudah tertekan kenaikan harga minyak.

Mengutip Financial Times, euro sempat melemah hingga 0,8% ke US$1,116 pada perdagangan pagi di London. Mata uang tunggal Eropa itu kemudian bergerak di kisaran US$1,121. Sepanjang tahun ini, euro sudah terkoreksi 4,5% terhadap dolar AS.

Analis mata uang senior di MUFG, Lee Hardman, menilai pelemahan euro dipicu kekhawatiran yang menguat atas memburuknya kondisi keuangan di zona euro akibat tekanan tajam di pasar obligasi Prancis.

Aksi jual surat utang Prancis semakin dalam sepanjang pekan lalu dan mendorong yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun mendekati 5%. Sejak perang Iran dimulai, kenaikan yield Prancis tercatat paling besar di antara negara-negara G7, dari 3,2% pada akhir Februari.

Pada perdagangan Senin, yield sempat naik lagi di awal sesi sebelum turun ke 4,86% atau stagnan dibanding hari sebelumnya.

Prancis terpukul lebih keras dalam aksi jual obligasi global karena kenaikan yield bertemu kekhawatiran atas kegagalan pemerintah menurunkan defisit anggaran ke bawah 5% dari produk domestik bruto (PDB).

Kecemasan itu mulai membebani euro pekan lalu, dan merembet ke pasar obligasi negara zona euro lainnya, terutama Italia. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) harus turun tangan agar masalah utang Prancis tidak menjalar ke kawasan yang lebih luas.

Hardman menyebut perkembangan ini memicu kembali kekhawatiran risiko fragmentasi di zona euro yang dapat menghambat transmisi kebijakan moneter.

Risiko Politik Membayangi

Investor juga cemas kenaikan partai-partai populis menjelang pemilihan presiden Prancis tahun depan akan memperburuk prospek. Ketidakpastian bertambah setelah Spanyol mengumumkan pemilu dadakan, usai rancangan undang-undang perumahan andalan Perdana Menteri Pedro Sánchez ditolak pekan lalu.

Kepala riset global sekaligus ahli strategi utama Standard Chartered, Eric Robertsen, menilai kondisi politik Eropa mulai memburuk, dengan sorotan khusus pada pasar obligasi Prancis. Menurutnya, Prancis tampak belum memiliki kemauan maupun kemampuan untuk membenahi kondisi fiskalnya.

Manajer investasi asal AS, Vanguard, pekan lalu juga memperingatkan memburuknya kelayakan kredit Prancis. Negara itu kini menjadi pusat kekhawatiran pasar soal keberlanjutan utang Eropa.

Pelemahan euro juga dipicu bergesernya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga ECB, yang mengurangi dukungan bagi mata uang tersebut. Dengan latar belakang politik dan fiskal Prancis yang memburuk, pelaku pasar kini memperkirakan hanya dua kali kenaikan 25 basis poin dari suku bunga ECB saat ini sebesar 2,5% dalam setahun ke depan. Beberapa pekan lalu, pasar masih memperkirakan tiga kali kenaikan.

Ahli strategi di Deutsche Bank, Jim Reid, menilai tingginya yield Prancis sudah mengetatkan kondisi keuangan dan akan membuat ECB makin sulit menjalankan kenaikan suku bunga seperti yang diperkirakan pasar.

Tekanan juga merembet ke pasar valuta asing lainnya. Terhadap franc Swiss, euro turun 1,6% bulan ini ke level SFr0,932, menuju salah satu penurunan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Kepala layanan investasi UBP Inggris, Peter Kinsella, menyebut pergerakan ini kembali menegaskan sifat franc sebagai aset aman. Pasangan mata uang itu, katanya, menjadi indikator favorit pasar valas untuk risiko selisih imbal hasil antarnegara zona euro pada krisis 2010-2012.

Meski begitu, sebagian analis menilai perbandingan dengan krisis zona euro terlalu berlebihan. Ahli strategi senior BNY, Geoffrey Yu, mengaku berhati-hati terhadap kinerja euro, tetapi menilai kemiripan dengan kondisi 2012 jauh dari tepat.

Reid dari Deutsche Bank menyebut pertanyaan besarnya adalah apakah ini awal krisis utang negara zona euro yang baru, atau pasar sudah bereaksi berlebihan. Ia sendiri lebih condong ke kemungkinan kedua.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
BUMN Ini Ungkap Strategi Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik

BUMN Ini Ungkap Strategi Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik

October 7, 2026
Ekonomi Biru RI Punya Potensi Besar, Pembiayaan Jadi Kunci Utama

Ekonomi Biru RI Punya Potensi Besar, Pembiayaan Jadi Kunci Utama

October 7, 2026
Tok! Biaya Haji 2027 Disepakati Rp98,46 Juta

Tok! Biaya Haji 2027 Disepakati Rp98,46 Juta

October 7, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .