• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Perusahaan Sawit Jaya Agra Wattie Kena Sanksi Karhutla, Ini Pemiliknya

Perusahaan Sawit Jaya Agra Wattie Kena Sanksi Karhutla, Ini Pemiliknya

October 15, 2026
IHSG Ditutup Anjlok 1,33% ke 5.863

IHSG Ditutup Anjlok 1,33% ke 5.863

October 15, 2026
IHSG Ditutup Melemah 1,33% ke 5.863

IHSG Ditutup Melemah 1,33% ke 5.863

October 15, 2026
Ternyata Ini Sosok Di Balik Transaksi Crossing Rp1,12 T di Saham BYAN

Ternyata Ini Sosok Di Balik Transaksi Crossing Rp1,12 T di Saham BYAN

October 15, 2026
Tok! Krakatau Steel (KRAS) Merger 2 Anak Usaha

Tok! Krakatau Steel (KRAS) Merger 2 Anak Usaha

October 15, 2026
Rupiah Ditutup Tertekan 0,14%, Dolar AS Naik ke Rp17.920

Rupiah Ditutup Tertekan 0,14%, Dolar AS Naik ke Rp17.920

October 15, 2026
Ternyata Ini Sosok Dibalik Transaksi Crossing Rp1,12 T di Saham BYAN

Ternyata Ini Sosok Dibalik Transaksi Crossing Rp1,12 T di Saham BYAN

October 15, 2026
Emiten Terafiliasi Prajogo (PTRO) Mau Rights Issue, Duitnya Buat Ini

Emiten Terafiliasi Prajogo (PTRO) Mau Rights Issue, Duitnya Buat Ini

October 15, 2026
Danantara & INA Rampungkan Investasi di Proyek CA-EDC Chandra Asri

Danantara & INA Rampungkan Investasi di Proyek CA-EDC Chandra Asri

October 15, 2026
BI Buka Suara Soal Efek Isu Global ke Pelemahan Rupiah

BI Buka Suara Soal Efek Isu Global ke Pelemahan Rupiah

October 15, 2026
JAWA Kena Sanksi Karhutla, Ini Sosok Pengendali di Balik Emiten Sawit

JAWA Kena Sanksi Karhutla, Ini Sosok Pengendali di Balik Emiten Sawit

October 15, 2026
Video: Bursa Asia Kompak Ambles: IHSG Terkoreksi 2%

Video: Bursa Asia Kompak Ambles: IHSG Terkoreksi 2%

October 15, 2026
Dana Asing Keluar Rp182,94 M, 10 Saham Ini Paling Banyak Dibuang

Dana Asing Keluar Rp182,94 M, 10 Saham Ini Paling Banyak Dibuang

October 15, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Thursday, October 15, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home News

Perusahaan Sawit Jaya Agra Wattie Kena Sanksi Karhutla, Ini Pemiliknya

2 hours ago
in News
Perusahaan Sawit Jaya Agra Wattie Kena Sanksi Karhutla, Ini Pemiliknya
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten perkebunan karet dan kelapa sawit PT JA Wattie Tbk (JAWA) mengungkapkan perseroan telah dikenakan sanksi administratif terkait kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal itu disampaikan JAWA dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/10/2026).

Mengutip laman prospektusnya, di balik emiten perkebunan karet dan kelapa sawit tersebut, terdapat struktur kepemilikan berlapis yang membuat peta pengendalian perusahaan tidak langsung terlihat. Salah satu nama yang paling menonjol dalam struktur itu adalah Irwan Atmadja Dinata, yang tidak tercatat sebagai pemegang saham langsung, tetapi memiliki porsi ekonomi yang signifikan lewat holding di atas perusahaan.

Berdasarkan bagan Struktur Grup Perseroan, saham Jaya Agra Wattie paling banyak digenggam oleh PT Sarana Agro Investama (SAI) sebesar 92,50%. Di atas SAI berdiri PT GMT Kapital Asia, yang menguasai 99,96% saham SAI.

GMT Kapital Asia dimiliki oleh sejumlah individu. Irwan Atmadja Dinata memegang porsi terbesar, yakni 26,58%. Setelahnya ada Adi I. Hartono dengan 24,37%, Djaja Mulia 21,3%, dan T. Marto Sutiono 19,09%. Pemegang saham lainnya adalah Mohammad Syahrial dengan 6,45% dan Rachmat Saptaman dengan 2,21%.

Irwan Atmadja Dinata merupakan Managing Director sekaligus Executive Director Moya Holdings Asia Ltd, perusahaan asal Singapura yang bergerak di sektor air dan utilitas terkait. Ia memegang peran itu sejak 29 Maret 2016.

Irwan bergabung dengan jajaran direksi Moya pada 17 Maret 2015 sebagai Non-Executive Non-Independent Director. Sekitar setahun kemudian, pada 29 Maret 2016, ia naik menjadi Managing Director dan Executive Director. Dalam posisi ini ia bertanggung jawab atas operasional harian grup serta pelaksanaan proyek-proyeknya.

Ia juga duduk di dua komite perusahaan, yaitu Komite Nominasi (anggota sejak 2021) dan Komite Audit (anggota, tercatat sejak 2021).

Sebelum menjabat direktur, Irwan tercatat pernah menjadi Presiden Komisaris dan Komisaris di Moya Holdings Asia.

Karier Irwan mencakup industri kehutanan, energi terbarukan, dan keuangan. Di bidang keuangan, pengalamannya meliputi manajemen dana, perbankan, perbankan investasi, multifinance, treasuri, dan penasihat keuangan.

Sejak 1998 ia telah menjabat sebagai direktur maupun komisaris di berbagai perusahaan. Selain di Moya, ia kini menjadi Presiden Direktur PT GMT Kapital Asia dan Komisaris PT Tamaris Hidro, di antara sejumlah jabatan lainnya.

Irwan meraih gelar Bachelor of Arts di bidang Finance and Business Economics dari University of Washington, Amerika Serikat, pada 1990. Dua tahun kemudian, pada 1992, ia menyelesaikan Master of Business Administration (MBA) di Santa Clara University, Amerika Serikat.

Sebagai informasi, meskipun dikenakan sanksi administratif atau karhutla, manajemen memastikan sanksi tersebut tidak berdampak terhadap kelangsungan usaha perseroan.

“Perseroan dikenakan sanksi administratif terkait kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sanksi tersebut tidak berdampak terhadap kelangsungan usaha Perseroan,” tulis Sekretaris Perusahaan JAWA Harli Wijayadi dalam keterangan resminya.

Namun, perseroan tidak merinci jenis sanksi administratif yang diterima, termasuk instansi yang menjatuhkan sanksi maupun luas lahan yang terdampak.

Dalam penjelasannya, JAWA menyebut memiliki lokasi perkebunan di Desa Raden, Kecamatan Kurau, dan Desa Ranggang Dalam, Kecamatan Takisung, keduanya di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kebun tersebut dikelola oleh entitas anak, PT Kintap Jaya Wattindo, melalui Kebun Pelaihari I dan Kebun Pelaihari II.

Kontribusi produksi tandan buah segar (TBS) dari kedua kebun itu tercatat sebesar 3,9% dari total produksi TBS milik Kintap Jaya Wattindo. Perseroan menjelaskan, Kebun Pelaihari I dan II tidak menjual hasil panennya ke pihak luar, melainkan hanya memasok TBS ke pabrik Kintap Jaya Wattindo untuk diolah menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Terkait dampak operasional, JAWA menegaskan karhutla tidak berpengaruh terhadap kegiatan operasional perseroan. Dengan begitu, target produksi tahun 2026 disebut tetap berjalan sesuai rencana dan proyeksi yang telah disampaikan dalam Laporan Tahunan.

Hal serupa berlaku untuk pendapatan, laba, dan nilai aset perseroan yang diklaim masih sejalan dengan proyeksi dalam Laporan Tahunan.

Adapun soal potensi penghentian operasi tak terencana, JAWA menyatakan hingga saat ini belum ada unplanned shutdown di lokasi maupun lahan operasional perseroan. Kendati begitu, perseroan mengakui bahwa kemungkinan unplanned shutdown di lokasi site masih dalam pembahasan manajemen.

Untuk memitigasi risiko karhutla, JAWA mengaku melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi area perkebunan serta menempatkan staf di lapangan untuk melakukan pemeriksaan langsung.

Perseroan juga meningkatkan kewaspadaan di area perkebunan dan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk satuan tugas (satgas) karhutla, agar penanganan dapat dilakukan secara cepat apabila ditemukan indikasi kebakaran. JAWA menambahkan, pihaknya telah memiliki sarana dan prasarana penanggulangan karhutla.

Di akhir penjelasannya, JAWA menyatakan tidak memiliki informasi material terkait karhutla yang belum disampaikan kepada investor maupun publik. Perseroan berkomitmen akan mengungkapkannya apabila di kemudian hari terdapat informasi atau fakta material baru.

(rob/rob)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
IHSG Ditutup Anjlok 1,33% ke 5.863

IHSG Ditutup Anjlok 1,33% ke 5.863

October 15, 2026
IHSG Ditutup Melemah 1,33% ke 5.863

IHSG Ditutup Melemah 1,33% ke 5.863

October 15, 2026
Ternyata Ini Sosok Di Balik Transaksi Crossing Rp1,12 T di Saham BYAN

Ternyata Ini Sosok Di Balik Transaksi Crossing Rp1,12 T di Saham BYAN

October 15, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .