
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sebulan terakhir cenderung berfluktuasi meskipun telah terjadi arus modal asing yang mulai kembali ke pasar moda Tanah Air. Para analis memandang hal itu disebabkan berbagai faktor yang mempengaruhi harga saham.
Analis MNC Sekuritas Herditya mengatakan, volatilitas yang terjadi disebabkan oleh berbagai sentimen. Antara lain, pergerakan harga komoditas seperti minyak mentah dan emas yang mempengaruhi pergerakan emiten yg berkorelasi.
“Disamping itu juga adanya lonjakan harga soft komoditas yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap emiten-emiten konsumer,” ujarnya saat dihubungi oleh CNBC Indonesia, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, para investor juga masih mencermati perkembangan kebijakan The Fed ke depannya apakah akan tetap cenderung hawkish atau ada kolanggaran dari sisi suku bunga, karena dengan naiknya harga energi akibat eskalasi Timur Tengah berpengaruh terhadap inflasi AS dan global.
Hal senada juga diungkapkan oleh Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus yang mengatakan bahwa kondisi pasar modal RI masih berada dalam tekanan.
“Memang secara historis, IHSG selalu terkoreksi pada bulan September. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, IHSG terkoreksi -0.76% dengan tingkat probabilitas sebesar 60%,” ungkapnya.
Adapun faktor yanh mempengaruhi ruang gerak IHSG antara lain, perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang tidak berhenti, harga minyak yang kembali naik, inflasi di Amerika kembali naik, Fed Rate dan beragam tingkat suku bunga bank sentral dunia akan naik, nilai investasi dan kredit akan mengecil, dan perekonomian yang diperkirakan akan melambat.
Namun, secara teknikal, pihaknya melihat IHSG berpotensi mengalami penguatan di bulan ini. Terutama setelah sebelumnya secara konsistem terus mengalami kenaikkan.
“Sekalipun mengalami koreksi, namun tidak melewati level support yang ada. Secara rentang, IHSG akan bermain di 6.640 – 6.730,” sebutnya.
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, fluktuasi pergerakan IHSG dianggap wajar di tengah bauran sentimen baik positif maupun negatif dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh pemulihan awal pasca kejatuhan pasar sejak pertengahan April hingga awal Juni 2026 kemarin.
“Jadi aksi akumulasi pelaku pasar masih diwarnai juga dengan aksi ambil untung oleh para trader yang belum yakin akan adanya tren naik yang kuat,” ucapnya.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan, sentimen IHSG bulan ini masih cukup positif, terutama dengan mulai masuknya kembali aliran dana asing. Namun, volatilitas memang masih tinggi karena investor masih melakukan rotasi sektor dan merespons berbagai sentimen secara cepat.
“Faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan yield US Treasury dan dolar AS, kondisi geopolitik serta harga komoditas, dan tentunya sentimen domestik seperti kebijakan fiskal pemerintah, rupiah, serta kinerja emiten,” jelasnya.
(fsd/fsd)


















