
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Kilau berlian kian meredup. Harga berlian alam kini jatuh ke level yang belum pernah terlihat dalam lebih dari dua dekade, tertekan oleh banjir pasokan dan maraknya berlian hasil laboratorium (lab-grown).
Mengutip CNBC International, data platform perdagangan berlian Rapaport Group menunjukkan harga rata-rata berlian 1 karat kini berada di US$3.898 atau sekitar Rp69,7 juta. Angka ini anjlok 51% dibandingkan rata-rata pada 2021 yang mencapai US$8.007 atau sekitar Rp143,2 juta.
Penurunan juga terlihat pada indeks Diamond Standard, yang melacak harga berlian kelas investasi. Indeks tersebut sempat menyentuh 2.490 pada awal Agustus, level terendah sepanjang sejarah, sebelum bergerak sedikit di atas 2.500 pada akhir September.
Sementara itu, harga grosir berlian alam saat ini sekitar 30-40% di bawah puncaknya pada 2021.
Kelebihan Pasokan Pasca-Pandemi
Pemicu pertama adalah melimpahnya pasokan berlian tambang. Produksi berlebih selama pandemi Covid-19 meninggalkan tumpukan stok besar di pasar sepanjang 2023 hingga 2024.
“Ada banyak pesimisme soal berlian alam,” ujar CEO Diamond Standard Cormac Kinney kepada CNBC International. Menurutnya, setelah persoalan stok berlebih, pasar kemudian dihantam penurunan penjualan akibat berlian laboratorium.
Tekanan juga terasa di hulu rantai pasok. De Beers, salah satu produsen berlian terbesar dunia, mencatat harga realisasi rata-rata berlian kasar turun 32% secara tahunan menjadi US$105 per karat pada semester I-2026. Indeks harga rata-rata berlian kasarnya turun 16%.
Berlian Lab Jauh Lebih Murah
Pemicu kedua adalah berlian laboratorium, yang memiliki sifat kimia dan fisik identik dengan berlian alam. Berlian ini dibuat dengan menerapkan panas dan tekanan pada benih karbon, atau dari gas mengandung karbon di ruang vakum.
Perbedaan utamanya ada di harga. Penelusuran CNBC International di marketplace Brilliant Earth menemukan berlian lab nyaris tak berwarna dengan potongan sangat baik dijual sekitar US$450 (sekitar Rp8 juta). Sebagai pembanding, berlian alam dengan spesifikasi serupa dibanderol US$2.800-3.200 (sekitar Rp50,1 juta-Rp57,2 juta). Secara umum, berlian lab bisa dihargai hingga 90% lebih murah dari berlian tambang.
Selisih harga ini mendorong konsumen beralih. Berdasarkan studi The Knot 2026 Real Weddings Study, cincin tunangan dengan batu utama berlian lab mencakup 61% dari total penjualan cincin tunangan pada 2025, melonjak 239% sejak 2020.
Pasar berlian lab pun diproyeksikan tumbuh menjadi hampir US$92 miliar pada 2034, naik lebih dari 200% dari US$29,46 miliar pada 2025, menurut Fortune Business Insights.
China muncul sebagai pusat produksi utama. Presiden Shanghai Diamond Exchange Lin Qiang menyebut China memproduksi lebih dari 60% berlian buatan dunia. Ekspor berlian lab melalui bursa tersebut naik 65,3% secara tahunan menjadi 1,41 miliar yuan pada semester I-2026.
Koreksi harga ini paling terasa bagi India, yang menurut Gem & Jewellery Export Promotion Council (GJEPC) memotong dan memoles hampir 90% berlian kasar dunia. Ekspor berlian potong dan poles India turun 8,52% menjadi US$12,16 miliar pada tahun fiskal 2026, setelah sebelumnya merosot 16,8% pada tahun fiskal 2025 ke level terendah dalam hampir dua dekade.
Industri berlian alam mulai bergerak untuk menahan kejatuhan harga. De Beers, anak usaha Anglo American, pada Juli lalu mengumumkan penghentian produksi di tambang andalannya, Venetia di Afrika Selatan, selama lebih dari dua tahun. Setidaknya dua tambang berlian lain juga mengumumkan penutupan permanen pada 2026.
Kinney menilai gangguan pasokan tersebut mulai mengangkat harga grosir untuk kualitas tertentu, yang ia sebut sebagai awal pemulihan.
Tanda perlambatan penurunan juga terlihat dari data Rapaport. Indeks harga berlian 1 karat tercatat stagnan pada Agustus setelah turun 13 bulan beruntun, sementara indeks 0,30 karat dan 0,50 karat masing-masing naik 1,6% dan 1,8%.
Meski demikian, penurunan harga tidak merata. De Beers menyebut permintaan berlian alam berukuran besar dan berkualitas tinggi masih solid, sedangkan batu kecil berkualitas rendah terus tertekan oleh berlian sintetis.
Kenapa Perhiasan Tak Ikut Murah?
Turunnya harga berlian lepas tidak otomatis membuat perhiasan berlian lebih murah. Harga perhiasan juga ditentukan oleh logam mulia pengikatnya, seperti emas atau platinum, serta ongkos pembuatan dan biaya ritel.
Di India misalnya, harga emas domestik naik 12% hanya pada Agustus menjadi 158.854 rupee per 10 gram, menurut World Gold Council. Pada kuartal II-2026, harga emas domestik India 59% lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya. Kenaikan harga emas ini sebagian mengimbangi turunnya harga batu berlian.
Di sisi lain, pelaku industri mengingatkan berlian bukan instrumen investasi yang ideal. Tidak ada pasar spot standar karena tiap berlian berbeda, dan likuiditasnya rendah. Menurut laporan CaratX, berlian bisa mengendap di pasar sekunder lebih dari setahun, dan ketika terjual, harganya kerap kurang dari separuh harga ritel awal.
Analis justru menyarankan investor yang ingin menangkap tren berlian lab untuk melirik saham emiten perhiasan seperti Signet Jewelers, Brilliant Earth, dan Pandora. Saham Signet tercatat naik 21% sepanjang 2026.
(fsd/fsd)


















