Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,10% ke level 6.108,21 pada perdagangan Kamis (16/7). Penguatan indeks terutama ditopang oleh kenaikan saham ASII, BMRI, dan BBCA, sementara UNTR, VKTR, dan AMRT menjadi saham dengan tekanan terbesar terhadap pergerakan indeks.
Dari aktivitas investor, investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp283,41 miliar di pasar reguler dan sekitar Rp1,22 triliun di seluruh pasar. Arus dana asing didorong oleh peningkatan transaksi pada saham sektor perbankan dan emiten komoditas, termasuk transaksi negosiasi terkait pengambilalihan saham PKPK senilai lebih dari Rp1 triliun. Kondisi tersebut turut mendorong penguatan ETF EIDO sebesar 1,33% dan MSCI Indonesia sebesar 1,55%.
Seluruh 11 sektor di Bursa Efek Indonesia ditutup di zona hijau, dengan sektor teknologi memimpin kenaikan sebesar 1,94%.
Di sisi global, mayoritas indeks saham Amerika Serikat ditutup melemah. Indeks Dow Jones turun 0,20%, S&P 500 terkoreksi 0,51%, sementara Nasdaq turun 1,47% seiring tekanan pada saham-saham teknologi.
Dari sisi aksi korporasi, ada PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) yang berencana menambah kegiatan usaha baru melalui layanan Network Access Point (NAP) yang akan dijalankan oleh anak usahanya, PT Tower Bersama. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat ekosistem infrastruktur digital Perseroan di luar bisnis utama penyewaan menara telekomunikasi.
Berhubung kontribusi Tower Bersama terhadap pendapatan konsolidasian melebihi 20%, maka rencana tersebut dikategorikan sebagai transaksi material dan akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 24 Agustus.
Model bisnis NAP akan difokuskan sebagai penyedia layanan wholesale IP transit dengan target pelanggan penyelenggara jasa internet (ISP) Tier 2–3 dan segmen korporasi. Pengembangan bisnis ini akan memanfaatkan sinergi aset grup yang meliputi jaringan serat optik lebih dari 60.000 kilometer, menara telekomunikasi, serta pusat data.
Perseroan menyiapkan investasi awal sekitar Rp47,40 miliar yang seluruhnya berasal dari kas internal sehingga tidak mengubah struktur permodalan maupun menambah utang.
Berdasarkan studi kelayakan independen untuk periode proyeksi 2026–2041, rencana pengembangan tersebut menghasilkan estimasi Internal Rate of Return (IRR) sebesar 18,65%, Net Present Value (NPV) positif Rp37,83 miliar, Profitability Index 1,86 kali, serta estimasi periode pengembalian investasi sekitar 7 tahun 4 bulan.
Lalu, ada PT Pinago Utama Tbk (PNGO) yang tengah memasuki periode penawaran tender wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) yang dilakukan oleh pengendali barunya, AEP Nusantara Holdings Limited.
Penawaran dilakukan atas maksimal 13,59 juta saham atau sekitar 1,74% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan harga Rp3.584 per saham. Nilai transaksi maksimal MTO diperkirakan mencapai sekitar Rp48,69 miliar.
Periode penawaran berlangsung mulai 16 Juli hingga 14 Agustus 2026, setelah AEP Nusantara menyelesaikan akuisisi 767,66 juta saham atau sekitar 98,26% kepemilikan PNGO senilai Rp2,75 triliun pada 4 Mei lalu.
Perseroan menyampaikan bahwa pelaksanaan MTO merupakan pemenuhan ketentuan regulasi setelah perubahan pengendalian dan tidak disertai rencana penghapusan pencatatan saham dari Bursa. Apabila seluruh saham publik diperoleh sehingga kepemilikan mencapai 100%, pengendali baru tetap berkewajiban memenuhi ketentuan porsi kepemilikan publik sesuai regulasi yang berlaku.
Sementara itu, PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) berencana melaksanakan penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) melalui penerbitan maksimal 800 juta saham baru atau sekitar 9,22% dari modal ditempatkan dan disetor penuh saat ini.
Harga pelaksanaan akan mengacu pada ketentuan Bursa Efek Indonesia, yakni sekurang-kurangnya 90% dari rata-rata harga penutupan saham selama 25 hari bursa berturut-turut sebelum pengajuan pencatatan saham tambahan.
Seluruh dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk belanja modal. Perseroan menyatakan aksi ini tidak mengubah struktur pengendalian perusahaan. Setelah PMTHMETD terlaksana, porsi kepemilikan masyarakat diperkirakan berubah dari 13,29% menjadi 12,17%, sehingga pemegang saham publik berpotensi mengalami dilusi sekitar 8,44%.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh)
Add
as a preferred
source on Google


















