
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,37% ke level 6.525,69 pada perdagangan Jumat (21/8).
Penguatan indeks didorong oleh sejumlah saham perbankan, dengan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 2,87%, Bank Mandiri (BMRI) menguat 1,69%, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) naik 3,90%. Di sisi lain, beberapa saham menjadi penekan IHSG, yakni Bayan Resources (BYAN) yang turun 3,55%, Capital Financial Indonesia (CASA) melemah 5,21%, dan Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) turun 1,74%.
Investor asing mencatatkan net buy Rp992,64 miliar di pasar reguler dan Rp974,57 miliar di seluruh pasar. Dari 11 sektor yang tercatat di BEI, enam sektor ditutup menguat. Sektor Basic Materials naik 0,62%, sedangkan sektor Healthcare mencatat penurunan 0,88%.
Di pasar saham Amerika Serikat, Dow Jones naik 0,98% ke 53.277, S&P 500 menguat 0,43% ke 7.674, dan Nasdaq naik 0,44% ke 26.180.
Aksi beli bersih investor asing juga berlangsung selama dua hari perdagangan berturut-turut dengan nilai kumulatif Rp1,72 triliun. Nilai tersebut menjadi yang tertinggi sejak Februari 2026. Penguatan juga tercermin pada ETF EIDO yang naik 2,16% dan indeks MSCI Indonesia yang menguat 1,23%.
Sementara itu, FTSE Russell melalui Semi-Annual Review September 2026 menetapkan penghapusan 29 saham Indonesia dari indeks global tanpa memasukkan saham baru. Selain itu, sebanyak 10 saham turun klasifikasi dari Small Cap menjadi Micro Cap, yakni BBYB, BJBR, BTPS, LPKR, LPPF, MNCN, PNLF, SMRA, SCMA, dan SILO.
Khusus SILO, saham tersebut dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS), bukan hanya mengalami penurunan klasifikasi ke Micro Cap.
Perubahan dijadwalkan berlaku mulai 21 September 2026. Penghapusan tersebut terutama berkaitan dengan kriteria investable market capitalization.
Meski demikian, FTSE Russell masih membuka kemungkinan perubahan atas hasil review hingga penutupan perdagangan 4 September 2026. Hasil tersebut baru akan ditetapkan secara final pada 7 September 2026.
Dari sisi aksi korporasi, ada Swayasa Prakarsa (SWAP) yang tengah menjalankan proses book building pada 24-27 Agustus 2026 dalam rangka rencana penawaran umum perdana saham atau IPO di Bursa Efek Indonesia. Perseroan menargetkan pencatatan saham pada 10 September 2026.
SWAP merupakan perusahaan manufaktur produk kesehatan berbasis riset yang memproduksi produk elektromedis dan non-elektromedis. Produk yang dikembangkan antara lain stent jantung, External Ventricular Drain (EVD), dan ventilator neonatal.
Dalam IPO tersebut, SWAP menawarkan harga saham pada kisaran Rp130-Rp140 per saham. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 323 juta saham baru, setara 30,30% dari modal setelah IPO, dengan target dana maksimal Rp45,22 miliar.
Sebelum IPO, PT Gama Multi Usaha Mandiri menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 97,16%. Setelah aksi korporasi, kepemilikan tersebut diperkirakan turun menjadi 67,72%. Sementara itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki 2,69% saham.
Dana hasil IPO akan dialokasikan untuk sejumlah kebutuhan. Sekitar Rp15,80 miliar digunakan sebagai modal kerja, Rp12,20 miliar untuk belanja modal, termasuk pembangunan gedung distribusi dan manajemen baru, serta sekitar Rp12 miliar untuk pembayaran utang kepada pihak terafiliasi.
Selanjutnya, ada Bhuwanatala Indah Permai (BIPP) yang berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) dengan menerbitkan saham baru Seri B maksimal 502,87 juta lembar.
Jumlah tersebut setara maksimal 10% dari saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan akan ditetapkan minimal 90% dari rata-rata harga penutupan saham BIPP selama 25 hari bursa berturut-turut di pasar reguler sebelum tanggal permohonan pencatatan saham tambahan.
Aksi tersebut berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan pemegang saham eksisting maksimal 9,09%. Pemegang saham utama Safire Capital Pte. Ltd diperkirakan mengalami penurunan kepemilikan dari 61,62% menjadi 56,02%, sedangkan kepemilikan PT Victoria Investama Tbk turun dari 11,40% menjadi 10,36%.
Dana hasil PMTHMETD akan digunakan untuk pengembangan usaha dan penambahan modal kerja BIPP. Penyertaan modal akan dilakukan dalam bentuk uang tunai.
Pelaksanaan private placement dapat dilakukan sekaligus maupun secara bertahap dalam jangka waktu maksimal dua tahun sejak RUPSLB memberikan persetujuan atas PMTHMETD pada 25 September 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh)



















