Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat kencang pada akhir perdagangan hari ini, Senin (13/6/2026). Setelah mengalami volatilitas tinggi sepanjang hari, IHSG tiba-tiba melambung 20 menit sebelum pasar tutup hingga akhirnya parkir di level 6.037,84.
IHSG ditutup naik 113,48 poin atau 1,92%. Sebanyak 392 emiten naik, 268 turun, dan 305 stagnan. Nilai transaksi pada akhir sesi 2 mencapai Rp 12,14 triliun dengan volume 25,07 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,68 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 10.510 triliun.
Mengutip Refinitiv, pada akhir sesi nyaris seluruh sektor berada di zona hijau. Hanya kesehatan yang masih koreksi tipis.
Bahan baku, energi, utilitas, dan finansial memimpin penguatan dengan masing-masing naik 3,74%, 2,58%, 2,39%, dan 1,69%.
Tercatat saham perbankan dan konglomerat kompak mendongkrak IHSG. Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Amman Mineral (AMMN) menjadi pendorong utama dengan bobot 13,88 poin, 11,68 poin, dan 11,37 poin.
Selain itu, VKTR, BRPT, BBCA, hingga BBNI juga masuk dalam daftar top movers hari ini. Sementara itu, penahan laju IHSG terbilang tidak berarti.
Adapun IHSG melompat naik di menit-menit akhir perdagangan setelah Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap berada pada level stabil.
Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil,” tulis S&P dalam laporannya.
S&P mengakui posisi fiskal dan eksternal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang. Meski demikian, S&P menilai tekanan tersebut tidak bersifat permanen.
Menurut lembaga pemeringkat tersebut, perbaikan harga komoditas serta langkah pemerintah dalam mengendalikan belanja berpotensi membantu memperkuat kembali kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.
S&P juga menyoroti berbagai upaya pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sektor sumber daya alam dan mineral. Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan kinerja ekspor dalam jangka panjang.
“Kami meyakini upaya pemerintah untuk memusatkan pengelolaan serta mengurangi kebocoran di sektor sumber daya alam dan mineral pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan negara dan penerimaan ekspor, terutama apabila implementasi kebijakan semakin membaik,” tulis S&P.
S&P juga menuturkan prospek stabil juga mencerminkan harapan kami bahwa pemerintah terus memandang batas defisit tahunan sebesar 3% sebagai jangkar kebijakan yang penting.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google


















