
Jakarta, CNBC Indonesia- Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengahrapkan dukungan pemerintah terhadap persoalan yang tengah dihadapi industri keramik terkait pemangkasan kuota gas bumi oleh PGN.
Saat ini biaya gas merupakan komponen biaya terbesar dalam proses produksi keramik sehingga saat pasokan dibatasi dan harganya melonjak maka tekanan pada biaya maupun gangguan produksi mengancam bisnis.
ASAKI berharap kepastian pasokan dan Harga gas industri melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dibutuhkan industri keramik untuk memaksimalkan kapasitas dan utilisasi produksi. Hal ini diperlukan untuk mendukung ekspansi bisnis guna memperkuat daya saing keramik lokal sekaligus memenuhi kebutuhan keramik untuk mendukung program prioritas pemerintah seperti MBG, 13 Juta rumah hingga program Koperasi Desa Merah Putih.
ASAKI mencatat adanya potensi peningkatan kapasitas produksi keramik hingga 758 juta Meter kubik dengan nilai investasi Rp 12 Triliun dan menyerap tenaga kerja 7.500 lapangan kerja baru.
Seperti apa persoalan pasokan dan Harga gas industri keramik? Selengkapnya simak dialog Mercy Widjaja dengan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto dalam AutoBizz, CNBC Indonesia (Jum’at, 18/09/2026)


















