• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas Setara Zimbabwe, Ini Alasan MSCI

Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas Setara Zimbabwe, Ini Alasan MSCI

October 17, 2026
Petani di Jawa Tengah Temukan Emas 16 Kg di Sawah, Begini Nasibnya

Petani di Jawa Tengah Temukan Emas 16 Kg di Sawah, Begini Nasibnya

October 17, 2026
Gak Cuma Andalkan Payroll ASN, BPD Perluas Sumber Likuiditas

Gak Cuma Andalkan Payroll ASN, BPD Perluas Sumber Likuiditas

October 17, 2026
Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Tidak Mau Menjual Nama Besar Orang Tua

Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Tidak Mau Menjual Nama Besar Orang Tua

October 17, 2026
34 Lembaga Keuangan Berminat Danai Proyek PSEL Danantara

34 Lembaga Keuangan Berminat Danai Proyek PSEL Danantara

October 17, 2026
Harga Minyak Naik, Emiten Migas Incar Akuisisi Aset di Malaysia

Harga Minyak Naik, Emiten Migas Incar Akuisisi Aset di Malaysia

October 17, 2026
OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN, Totalnya Tembus Rp 2,1 Triliun

OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN, Totalnya Tembus Rp 2,1 Triliun

October 17, 2026
Top! BNI Masuk 4 Besar BUMN dengan Layanan Terbaik di Indonesia

Top! BNI Masuk 4 Besar BUMN dengan Layanan Terbaik di Indonesia

October 17, 2026
Korupsi BNPB, Dana Darurat Bencana Diduga Buat Beli Saham Rp 30 Miliar

Korupsi BNPB, Dana Darurat Bencana Diduga Buat Beli Saham Rp 30 Miliar

October 17, 2026
Segini Jumlah Tabungan Ideal Usia 50 Tahun Menurut Pakar Keuangan

Segini Jumlah Tabungan Ideal Usia 50 Tahun Menurut Pakar Keuangan

October 16, 2026
OJK Sanksi Pihak Terkait DSSA, CUAN dan BREN, Ini Pelanggarannya

OJK Sanksi Pihak Terkait DSSA, CUAN dan BREN, Ini Pelanggarannya

October 16, 2026
BP BUMN Mau Kembangkan 12 Kota Masa Depan, Ini Penjelasan Dony Oskaria

BP BUMN Mau Kembangkan 12 Kota Masa Depan, Ini Penjelasan Dony Oskaria

October 16, 2026
BRIS Mau Gelar RUPSLB, Bahas Rights Issue

BRIS Mau Gelar RUPSLB, Bahas Rights Issue

October 16, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Saturday, October 17, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas Setara Zimbabwe, Ini Alasan MSCI

7 hours ago
in ENTREPRENEUR
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas Setara Zimbabwe, Ini Alasan MSCI
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga pemeringkat global, MSCI, mengumumkan bahwa status pasar saham Indonesia berpotensi turun kelas dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kendati demikian, rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan para pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.

“MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan berkala mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya, dikutip Sabtu (17/10/2026).

MSCI menyatakan resmi membuka konsultasi terkait proposal reklasifikasi indeks MSCI Indonesia. Selama proses ini berjalan, MSCI membuka kemungkinan untuk menyampaikan pembaruan informasi dari masukan para pelaku pasar.

Saat ini, Indonesia masih bertengger di kelompok Emerging Market bersama sejumlah negara seperti Brasil, Cili, Mesir, Kolombia, Peru, Polandia, Qatar, Arab Saudi, China, India, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand.

Namun, jika klasifikasi Indonesia jatuh ke level Standalone Market yang berada di kasta terendah, pasar modal Garuda akan sejajar dengan negara-negara seperti Argentina, Jamaika, Panama, Lebanon, Nigeria, Palestina, Ukraina, hingga Zimbabwe.

MSCI menilai status Indonesia sebagai pasar berkembang (Emerging Market) tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saham domestik saat ini. Penilaian tersebut didasari kekhawatiran para pelaku pasar terhadap tingkat investabilitas saham Indonesia, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi.

Dalam tinjauan klasifikasi pasar pada Juni 2026, MSCI mengungkapkan bahwa sejumlah pelaku pasar telah menyampaikan kekhawatiran signifikan terkait kemampuan investor untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia secara transparan dan efisien.

Padahal, regulator pasar modal Indonesia telah mengumumkan berbagai langkah reformasi, mulai dari peningkatan pengungkapan pemegang saham di atas 1%, perincian klasifikasi investor, pelaporan Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), hingga peta jalan (roadmap) menuju persyaratan free float minimum sebesar 15%.

“Para investor institusional menekankan perlunya implementasi yang konsisten serta bukti dampak material yang berkelanjutan dari pengumuman-pengumuman reformasi tersebut,” sebut MSCI.

Namun, MSCI menilai hingga saat ini belum terlihat kemajuan yang memadai dan konsisten di seluruh pasar saham Indonesia. Kekhawatiran mengenai disfungsi pasar terus berlanjut, terutama terkait dugaan praktik perdagangan terkoordinasi serta minimnya bukti penegakan hukum yang memberi dampak signifikan.

Atas dasar itu, MSCI memandang status Emerging Market tidak lagi tepat untuk Indonesia dan meluncurkan konsultasi atas usulan reklasifikasi menjadi Standalone Market. Bahkan, berdasarkan masukan pelaku pasar, penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market dinilai tidak cukup untuk mencerminkan besarnya tingkat permasalahan yang terjadi di pasar saham domestik.

MSCI memperkirakan akan melanjutkan rencana reklasifikasi tersebut, kecuali hasil konsultasi menunjukkan bukti jelas mengenai perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar yang dapat menjadi dasar pertimbangan ulang.

Sejalan dengan proses tersebut, MSCI memutuskan untuk tetap membekukan sejumlah penyesuaian indeks untuk saham-saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Dalam kebijakan pembekuan ini, MSCI tidak akan menerapkan peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun Number of Shares (NOS). MSCI juga tidak akan menambahkan saham baru ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI) maupun menaikkan kelas saham ke segmen indeks berdasarkan kapitalisasi pasar yang lebih tinggi.

Sebagai informasi, FIF merupakan faktor yang digunakan MSCI untuk menentukan porsi saham yang tersedia bagi investor asing dalam perhitungan indeks, sedangkan NOS mengacu pada jumlah saham yang digunakan dalam kalkulasi indeks.

MSCI juga menegaskan akan tetap menghapus saham-saham yang telah diidentifikasi oleh otoritas Indonesia dalam kerangka HSC. Selain itu, data pengungkapan pemegang saham di atas 1% tetap digunakan untuk menyesuaikan estimasi free float.

MSCI membuka kesempatan bagi para pelaku pasar untuk menyampaikan tanggapan atas proposal reklasifikasi ini hingga 30 April 2027. Keputusan final mengenai perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia akan diumumkan pada atau sebelum 30 Juni 2027.

(fab/fab)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Petani di Jawa Tengah Temukan Emas 16 Kg di Sawah, Begini Nasibnya

Petani di Jawa Tengah Temukan Emas 16 Kg di Sawah, Begini Nasibnya

October 17, 2026
Gak Cuma Andalkan Payroll ASN, BPD Perluas Sumber Likuiditas

Gak Cuma Andalkan Payroll ASN, BPD Perluas Sumber Likuiditas

October 17, 2026
Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Tidak Mau Menjual Nama Besar Orang Tua

Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Tidak Mau Menjual Nama Besar Orang Tua

October 17, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .