Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba berbalik arah setelah 15 menit dibuka hari ini, Selasa (12/5/2026).
Pada pembukaan, IHSG melaju dengan kuat dan bahkan sempat naik 1%. Akan tetapi per pukul 09.16, IHSG berbalik arah dan ambruk ke level 6.831,84 atau turun 1,07%.
Secara sektoral, sektor teknologi menjadi penekan terbesar dengan koreksi mencapai 3,43%, disusul utilitas -2,85%, konsumer primer -1,46%, kesehatan melemah 1,44%, dan konsumer non-primer turun 0,84%.
Dari sisi saham, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi penurunan 24,2 poin indeks. Saham MORA pada awalnya melaju kuat dengan kenaikan 15% lebih dan menjadi penggerak utama IHSG.
Akan tetapi tidak lama berselang, MORA anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) 15% ke level 7.650.
Selanjutnya ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menekan indeks 7 poin, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 5,9 poin, serta PT Astra International Tbk (ASII) sebesar 4,99 poin.
Saham perbankan big caps juga kompak berada di zona merah. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menekan IHSG 3,91 poin, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang pelemahan 3,14 poin.
Pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual dan wait and see menjelang pengumuman review MSCI yang dijadwalkan hari ini. Pasar khawatir Indonesia kembali mengalami penurunan bobot dalam indeks global MSCI, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing.
Menjelang pengumuman tersebut, regulator hingga pelaku pasar kompak menilai reformasi pasar modal Indonesia memang berpotensi memicu tekanan jangka pendek, namun diyakini akan berdampak positif dalam jangka panjang.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pengumuman MSCI, sembari menegaskan langkah reformasi pasar modal yang dilakukan regulator merupakan bagian dari upaya memperkuat integritas pasar.
“Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain,” ujar Friderica di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5/2026).
Bursa Efek Indonesia mengakui adanya potensi penurunan bobot Indonesia di MSCI dalam jangka pendek apabila tidak ada saham baru yang masuk indeks.
“Kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, dalam jangka pendek mungkin saja bobot Indonesia turun. Tetapi itu adalah short term pain untuk long term gain,” ujar Jeffrey.
BEI menegaskan reformasi pasar modal akan terus dilanjutkan, termasuk mendorong peningkatan free float emiten agar memenuhi standar global.
Selain faktor domestik, sentimen global juga masih membebani pasar emerging market setelah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Meski IHSG tertekan, sejumlah saham masih menjadi penopang indeks. PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) menjadi penggerak utama dengan kontribusi kenaikan 2,58 poin indeks. Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), serta PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC).
Adapun nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pagi ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026) dibuka di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,43% ke level Rp17.480/US$.
Sementara itu, per pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY terpantau menguat 0,16% ke posisi 98,104.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google



















