Jakarta, CNBC Indonesia — PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) tengah menghadapi tekanan keuangan berat. Produsen udang beku tersebut kini hanya mengoperasikan satu pabrik akibat kekurangan modal kerja, sementara restrukturisasi utang dengan sejumlah kreditur masih berlangsung.
Di tengah kondisi tersebut, PT Bank Permata Tbk (BNLI) menjadi kreditur dengan eksposur terbesar kepada PMMP. Berdasarkan jawaban perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), outstanding kredit PMMP di Bank Permata mencapai US$53,12 juta ditambah fasilitas dalam rupiah sebesar Rp5,49 miliar. Dengan asumsi kurs Rp18.027 per dolar AS, total eksposur Bank Permata mencapai sekitar Rp963 miliar atau nyaris Rp1 triliun.
Tak hanya Bank Permata, PMMP juga masih memiliki pinjaman kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank SMBC Indonesia Tbk, PT Bank Maspion Indonesia Tbk, serta PT Bank Resona Perdania.
Perseroan menyebut restrukturisasi dengan Bank Permata telah memiliki perjanjian kredit, sementara restrukturisasi dengan kreditur lainnya masih menunggu hasil komite masing-masing bank.
Sementara itu kondisi operasional PMMP juga menunjukkan tekanan yang tidak ringan. Dalam penjelasannya kepada BEI, manajemen mengungkapkan saat ini hanya satu unit pabrik di Situbondo yang masih beroperasi.
Kendala terbesar perusahaan adalah keterbatasan modal kerja, dengan kebutuhan tambahan modal kerja diperkirakan mencapai US$15 juta agar kegiatan operasional dapat berjalan optimal.
Efisiensi telah dilakukan melalui pengurangan tenaga kerja. Sejak 2024 hingga saat ini, perusahaan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 37 karyawan staf dan 79 karyawan harian, sementara 82 staf lain mengundurkan diri.
Tekanan tersebut tercermin dalam laporan keuangan perseroan per 30 September 2025. PMMP membukukan rugi bersih US$38,02 juta, membengkak dibanding rugi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$15,26 juta. Akumulasi defisit pun meningkat menjadi sekitar US$117,24 juta.
Di sisi neraca, total liabilitas PMMP mencapai sekitar US$257,13 juta, melampaui total aset sebesar US$220,73 juta. Kondisi tersebut membuat perseroan mencatat defisiensi modal (ekuitas negatif) sekitar US$36,40 juta, yang mencerminkan kewajiban perusahaan telah melebihi nilai aset yang dimiliki.
Likuiditas perusahaan juga berada di bawah tekanan. Saldo kas dan bank pada akhir September 2025 hanya sekitar US$188.703, sementara pinjaman bank jangka pendek mencapai US$193,35 juta.
Sebagai upaya memperbaiki kondisi keuangan, PMMP berencana melakukan rights issue serta mengonversi sebagian utang menjadi saham guna mengembalikan struktur permodalan menjadi positif.
Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek yang berakhir pada 31 Maret 2026 penerima manfaat terakhir PMMP adalah Soesilo Soebardjo. Secara langsung dia menggenggam saham PMMP sebesar 22,41% dan melalui PT Tiga Makin Jaya 34,7%.
Selain itu PT Harapan Bangsa Kita tercatat memiliki 7,27%. Harapan Bangsa Kita atau dikenal dengan GK Hebat merupakan perusahaan milik Kaesang Pangarep.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google


















