• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Rupiah Balik Arah, Dolar AS Naik ke Rp16.690

Rupiah Balik Arah, Dolar AS Naik ke Rp16.690

December 18, 2025
Breaking! IHSG Anjlok 2%

Breaking! IHSG Anjlok 2%

October 15, 2026
IHSG Anjlok 2%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok 2%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok Diatas 2%

Breaking! IHSG Anjlok Diatas 2%

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok di Atas 1%

Breaking! IHSG Anjlok di Atas 1%

October 15, 2026
Suroso Isnandar Jadi Bos Baru PLN, Manajemen Buka Suara

Suroso Isnandar Jadi Bos Baru PLN, Manajemen Buka Suara

October 15, 2026
Waskita Beton (WSBP) Mau Ubah Utang Jadi Saham, Nilainya Rp1,71 T

Waskita Beton (WSBP) Mau Ubah Utang Jadi Saham, Nilainya Rp1,71 T

October 15, 2026
IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
IHSG Anjlok Diatas 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok Diatas 1%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok Diatas 1%

Breaking! IHSG Anjlok Diatas 1%

October 15, 2026
Gelar RUPSLB, Emiten Favorit Lo Kheng Hong ABMM Mau Ganti Direksi

Gelar RUPSLB, Emiten Favorit Lo Kheng Hong ABMM Mau Ganti Direksi

October 15, 2026
Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah

Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah

October 15, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Thursday, October 15, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Rupiah Balik Arah, Dolar AS Naik ke Rp16.690

10 months ago
in Lifestyle
Rupiah Balik Arah, Dolar AS Naik ke Rp16.690
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (18/12/2025).

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.690/US$, atau terdepresiasi 0,06%. Pelemahan ini membalikkan posisi perdagangan sebelumnya, dimana rupiah masih mampu menguat tipis 0,03% dan ditutup di level Rp16.680/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,06% ke level 98,425 yang menunjukkan kembalinya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar.


Pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi oleh respons pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menahan suku bunga acuan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16-17 Desember 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 16 dan 17 Desember 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate tetap sebesar 4,75%,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers daring, Rabu (17/12/2025).

Keputusan tersebut ditempuh sebagai bagian dari upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, sekaligus tetap bersinergi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Perry juga menegaskan bahwa ke depan, fokus kebijakan BI akan diarahkan pada penguatan transmisi kebijakan moneter guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Bank Indonesia akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga lebih lanjut, seiring dengan proyeksi inflasi 2026 yang diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%, serta kebutuhan untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Sementara dari eksternal, pergerakan pasar global masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar masih mencermati kapan bank sentral AS (The Fed) akan kembali memangkas suku bunga, serta siapa sosok yang akan dipilih Presiden Donald Trump untuk menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell ke depan.

Komentar pejabat The Fed yang beragam turut menambah volatilitas pasar. Gubernur The Fed Christopher Waller pada Rabu menyatakan bahwa bank sentral AS masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga, seiring meningkatnya tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja.

Pernyataan ini kontras dengan sikap Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic, yang pada Selasa lalu menilai pemangkasan suku bunga pekan lalu tidak sepenuhnya diperlukan dan memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga lanjutan sepanjang 2026.

(evw/evw)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share197Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Breaking! IHSG Anjlok 2%

Breaking! IHSG Anjlok 2%

October 15, 2026
IHSG Anjlok 2%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok 2%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

October 15, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .