Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah kembali merasakan tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (6/7/2026). Pelemahan terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah 0,22% ke level Rp17.985/US$. Sejak awal perdagangan, rupiah sudah berada di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,12% ke level Rp17.970/US$.
Tekanan kemudian berlanjut hingga rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000/US$ pada perdagangan intraday. Meski demikian, rupiah berhasil memangkas pelemahan menjelang akhir perdagangan dan ditutup tipis di bawah level tersebut.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,17% ke level 101,030.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah sepanjang perdagangan hari ini.
Greenback bergerak menguat setelah sebelumnya sempat tertekan oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Koreksi dolar AS pada pekan lalu terjadi setelah data nonfarm payrolls AS lebih lemah dari perkiraan, serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menyebut risiko inflasi telah mereda.
Namun, pasar masih memperkirakan The Fed berpeluang menaikkan suku bunga hingga akhir tahun ini. Kondisi tersebut membuat dolar AS kembali mendapatkan dukungan pada perdagangan awal pekan.
Perhatian investor kini tertuju pada risalah pertemuan The Fed yang akan dirilis pada Rabu (8/7/2026) waktu AS. Dokumen tersebut akan dicermati untuk melihat arah kebijakan moneter AS ke depan.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah masih perlu dicermati, terutama setelah neraca perdagangan Indonesia kembali defisit setelah enam tahun bertahan surplus.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit ini mengakhiri tren surplus ekspor-impor selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Ekonom Bank Central Asia (BCA) menilai tekanan terhadap ekspor masih bisa berlanjut ke depan. Sejumlah faktor yang menjadi penghambat antara lain arah kebijakan The Fed yang lebih hawkish, potensi perlambatan permintaan global, program wajib biodiesel B50 yang dapat memengaruhi alokasi CPO untuk ekspor, hingga ketidakpastian kebijakan terkait komoditas seperti batu bara dan nikel.
Selain itu, impor juga diperkirakan masih berpotensi meningkat. Belanja pemerintah yang tetap tinggi dinilai dapat mengimbangi dampak depresiasi rupiah terhadap permintaan impor.
“Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan feedback loop yang mengarah pada pelemahan rupiah, yang kami perkirakan akan diatasi dengan tambahan kenaikan suku bunga kebijakan BI sebesar 50 bps pada tahun ini,” tulis ekonom BCA Jennifer Calysta Farrell dan Victor George dalam BCA Economic and Industry Research edisi 2 Juli 2026.
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google



















