Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah kembali harus menutup perdagangan hari ini, Selasa (23/6/2026), di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini terjadi di tengah penguatan dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.835/US$ atau melemah tipis 0,06%. Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tekanan terhadap rupiah dalam tiga hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.835-Rp17.870/US$. Mata uang Garuda mengawali perdagangan di level Rp17.850/US$, lalu sempat melemah lebih dalam sebelum tekanannya berkurang menjelang penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau masih menguat tipis 0,04% ke level 101,068.
Pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dinamika penguatan dolar AS di pasar global. Penguatan greenback membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.
Dolar AS menguat seiring masih adanya kekhawatiran pasar terhadap potensi suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama di Amerika Serikat. Kondisi ini muncul setelah bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%.
Selain itu, proyeksi suku bunga terbaru The Fed atau dot plot juga mengindikasikan peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Bahkan, sebagian pejabat The Fed masih memperkirakan adanya potensi kenaikan suku bunga pada rapat berikutnya.
Meski demikian, penguatan dolar AS masih tertahan oleh perkembangan positif dalam negosiasi Amerika Serikat dan Iran.
Di Swiss, perundingan tingkat tinggi AS-Iran disebut berakhir cukup positif meskipun sempat diwarnai sejumlah gangguan. Sebelumnya, AS dan Iran telah menandatangani memorandum of understanding berisi 14 poin, termasuk komitmen untuk menjalankan masa gencatan senjata selama 60 hari guna membahas jalan keluar konflik.
Sebagai bagian dari kesepakatan awal, AS sepakat mencabut blokade laut terhadap Iran. Sementara itu, Iran kembali membuka Selat Hormuz. Meredanya kekhawatiran pasokan membuat harga minyak turun, sehingga tekanan inflasi ikut mereda dan menahan penguatan dolar AS lebih lanjut.
Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini pemerintah mampu menjaga fondasi ekonomi nasional pada tahun ini. Dengan begitu, sentimen negatif yang selama ini menyelimuti Indonesia diharapkan dapat berangsur pudar.
Menurut Purbaya, jika fondasi ekonomi terus dijaga, nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing juga berpeluang lebih stabil, bahkan menguat.
“Tapi saya percaya kalau kita terus menjaga pondasi ekonomi kita beberapa bulan ke depan, pandangannya negatif kepada ekonomi kita juga akan melihat bahwa ternyata ekonomi kita tidak seburuk yang digemborkan,” kata Purbaya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (22/6/2026).
Purbaya bahkan menilai ekonomi Indonesia saat ini tengah mengalami akselerasi, bukan pelemahan. Hal tersebut dinilai menjadi bukti bahwa berbagai kebijakan pemerintah mulai berjalan tepat sasaran, tepat waktu, dan semakin mengurangi kebocoran yang selama ini terjadi.
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google


















