
Jakarta, CNBC Indonesia – Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) anjlok hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) pada perdagangan Selasa (4/8/2026), memutus rentetan penguatan yang sudah berlangsung selama enam hari perdagangan beruntun. Koreksi ini terjadi tak lama setelah Grup Djarum resmi menjadi pemegang saham pengendali perseroan.
Saham BACH ditutup ambles 14,78% ke level Rp865 per saham. Saham ini sempat dibuka menguat di level Rp1.030 dan bahkan menyentuh titik tertinggi hariannya di Rp1.080 sebelum akhirnya berbalik arah dan terjun bebas ke batas ARB.
Nilai transaksi saham BACH hari ini tercatat mencapai Rp204,46 miliar dengan volume perdagangan 2,15 juta lot dan frekuensi transaksi 25,56 ribu kali. Harga rata-rata perdagangan berada di level Rp951 per saham.
Tekanan & Antrean Jual Masih Tinggi
Tekanan jual pada saham BACH terlihat masih sangat kuat, dengan antrean jual (offer) menumpuk hingga total 1,06 juta lot dengan frekuensi 4.923 kali.
Antrean jual terbesar berada di level ARB Rp865 sebanyak 203.134 lot dan di level Rp900 sebanyak 732.069 lot.
Aksi jual investor asing turut menekan pergerakan saham BACH hari ini. Investor asing membukukan net sell senilai Rp15,42 miliar, dengan nilai jual asing mencapai Rp21,35 miliar berbanding nilai beli asing hanya Rp5,93 miliar. Adapun porsi transaksi asing pada saham ini tercatat 6,67%, sementara investor domestik mendominasi dengan porsi 93,33% atau setara nilai beli Rp198,53 miliar dan nilai jual Rp183,11 miliar.
Dari sisi aktivitas broker, XL (Stockbit Sekuritas Digital) menjadi broker paling aktif di sisi pembelian dengan nilai Rp50,72 miliar, sekaligus juga tercatat sebagai penjual terbesar dengan nilai Rp18,42 miliar. Disusul AO (Erdikha Elit Sekuritas) yang juga aktif di kedua sisi, dengan nilai jual mencapai Rp7,58 miliar.
Sempat Melesat Enam Hari Beruntun
Meski anjlok hari ini, saham BACH sebelumnya sempat mencatatkan reli spektakuler selama enam hari perdagangan berturut-turut. Pada Senin (3/8/2026), BACH melesat 15,34% ke level Rp1.015. Sebelumnya, saham ini menguat 15,03% ke Rp880 pada Jumat (31/7), naik 15,04% ke Rp765 pada Kamis (30/7), menguat 12,71% ke Rp665 pada Rabu (29/7), melonjak 10,28% ke Rp590 pada Selasa (28/7), dan naik 1,90% ke Rp535 pada Senin (27/7).
Artinya, dalam enam hari perdagangan sejak 27 Juli hingga 3 Agustus 2026, saham BACH sudah melesat sekitar 93% dari level Rp525. Bahkan dengan koreksi ARB hari ini, saham BACH masih tercatat menguat sekitar 65% dibandingkan posisi 24 Juli 2026.
Reli saham BACH sebelumnya dipicu oleh masuknya Grup Djarum sebagai pengendali baru perseroan. Melalui PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), Grup Djarum resmi menguasai 51% saham BACH setelah transaksi efektif.
Dengan aksi korporasi tersebut, BACH menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi Grup Djarum yang telah menaungi sejumlah perusahaan seperti Protelindo, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), iForte, dan SUPR. Sinergi ini dinilai membuka peluang pengembangan proyek, perluasan basis pelanggan, hingga peningkatan pendapatan berulang dari jasa konstruksi, pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi, serta bisnis penjualan dan penyewaan genset.
Dari sisi kinerja, BACH membukukan pendapatan Rp1,73 triliun sepanjang 2025 atau naik hampir 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar Rp156 miliar, dengan Net Profit Margin (NPM) 9% dan Return on Equity (ROE) 29%.
(fsd/fsd)



















