
Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan pengeluaran saham-saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan menurunkan kapitalisasi pasar secara keseluruhan.
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan saham-saham HSC memiliki bobot sekitar 18% dalam IHSG, dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar 30% dari total kapitalisasi pasar bursa.
“Dengan keluarnya HSC dari IHSG tidak akan menurunkan market cap secara keseluruhan. Karena saham-saham HSC tersebut hanya dikeluarkan dari perhitungan IHSG, sedangkan market cap dihitung dari semua saham, termasuk saham HSC,” ujar Iding kepada wartawan, Selasa, (27/10/2026).
Diketahui, per Senin (26/10/2026), kapitalisasi pasar IHSG tercatat sebesar Rp9.475,57 triliun. Angka tersebut telah turun dari posisi tertinggi sepanjang masa atau all time high sebesar Rp16.351 triliun.
Sebelumnya, BEI memastikan saham-saham yang masuk dalam daftar HSC tidak akan lagi diperhitungkan dalam IHSG mulai 2 November 2026. Kebijakan ini dipastikan tidak akan memicu penurunan drastis maupun lonjakan pada indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari langkah sebelumnya yang mengecualikan saham-saham HSC dari indeks IDX30, LQ45, dan IDX80. Dalam implementasinya, bobot saham-saham HSC yang dikeluarkan dari perhitungan indeks akan didistribusikan kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG.
“Dalam implementasi awal, tentu tidak akan mengakibatkan penurunan drastis, ya sama seperti kalau kita mengeluarkan saham tertentu, distribusi dari bobot itu akan diberikan kepada sisa saham-saham lain yang masih ada di dalam konstituen indeks,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (26/10/2026).
Jeffrey menambahkan, pergerakan IHSG setelah kebijakan tersebut diterapkan akan bergantung pada pergerakan harga saham-saham yang masih menjadi konstituen indeks. Oleh karena itu, pengeluaran saham HSC dari perhitungan indeks tidak serta-merta membuat IHSG mengalami penurunan atau kenaikan secara drastis.
BEI juga telah melakukan pengujian historis atau back test untuk mengukur dampak pengeluaran saham-saham HSC dari perhitungan IHSG. Hasil pengujian tersebut menunjukkan kebijakan ini tidak akan mengakibatkan lonjakan pada indeks.
Sebaliknya, BEI berharap kebijakan tersebut dapat meningkatkan kredibilitas IHSG agar semakin representatif dalam menggambarkan pergerakan pasar saham Indonesia. Dengan demikian, IHSG diharapkan dapat menjadi acuan yang lebih baik bagi investor untuk melacak pergerakan pasar saham domestik.
(ayh/ayh)



















