• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Simak! Keputusan Lengkap BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25%

Simak! Keputusan Lengkap BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25%

July 16, 2025
Saham HSC Bakal Dikeluarkan, IHSG Bakal Terdilusi? Ini Penjelasan BEI

Saham HSC Bakal Dikeluarkan, IHSG Bakal Terdilusi? Ini Penjelasan BEI

October 26, 2026
Dasco Sebut Indonesia Akan Tentukan Rating Sendiri, OJK Buka Suara

Dasco Sebut Indonesia Akan Tentukan Rating Sendiri, OJK Buka Suara

October 26, 2026
IHSG Tiba-tiba Anjlok 1% Lebih, Ini Penyebabnya

IHSG Tiba-tiba Anjlok 1% Lebih, Ini Penyebabnya

October 26, 2026
IHSG Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

October 26, 2026
Breaking! IHSG Tiba-tiba Anjlok 1% Lebih

Breaking! IHSG Tiba-tiba Anjlok 1% Lebih

October 26, 2026
Breaking! IHSG Anjlok di Atas 1%

Breaking! IHSG Anjlok di Atas 1%

October 26, 2026
Hadapi MSCI, OJK Siapkan 3 Jurus Ini

Hadapi MSCI, OJK Siapkan 3 Jurus Ini

October 26, 2026
BTN Salurkan KPR Rp552 Triliun di Kuartal III, Kuasai 39% Pasar

BTN Salurkan KPR Rp552 Triliun di Kuartal III, Kuasai 39% Pasar

October 26, 2026
Bukan Berarti Semua Tekanan Berakhir

Bukan Berarti Semua Tekanan Berakhir

October 26, 2026
Era Likuiditas Ketat, Bos BTN (BBTN) Ungkap Dampak Perang Suku Bunga

Era Likuiditas Ketat, Bos BTN (BBTN) Ungkap Dampak Perang Suku Bunga

October 26, 2026
Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp18.050 Pagi Ini

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp18.050 Pagi Ini

October 26, 2026
Awal Perdagangan, IHSG Menguat Terbatas 0,06%

Awal Perdagangan, IHSG Menguat Terbatas 0,06%

October 26, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Monday, October 26, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home News

Simak! Keputusan Lengkap BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25%

1 year ago
in News
Simak! Keputusan Lengkap BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25%
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan suku bunga acuan BI Rate turun pada Juli 2025 sebesar 25 basis points (bps) menjad 5,25%.

Penurunan suku bunga acuan ini terjadi setelah dua bulan terakhir Dewan Gubernur BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, penurunan suku bunga acuan saat ini menjadi penting supaya pertumbuhan ekonomi dapat terus terdorong, sebab tekanan inflasi tengah rendah, dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga.

“Keputusan ini konsisten dengan makin rendahnya prakiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5±1%, terjaganya stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya, serta perlunya untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi,” ucap Perry saat mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI secara daring, Rabu (16/7/2025).

Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi domestik harus didorong karena dari sisi global masih penuh dengan ketidakpastian. Dipicu oleh perang tarif perdagangan yang terus dilakukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

“Kebijakan kenaikan tarif resiprokal AS yang direncanakan berlaku mulai 1 Agustus 2025 diprakirakan akan memperlemah prospek pertumbuhan ekonomi dunia, khususnya di negara maju,” tegas Perry.

Dengan penurunan suku bunga acuan, ia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II-2025 masih ada harapan untuk pulih, setelah kuartal I-2025 tertekan ke level 4,87%. Ia meyakini ekonomi hingga akhir tahun bisa tumbuh ke level 5,4%.

“Pertumbuhan ekonomi semester II-2025 diprakirakan membaik dan secara keseluruhan tahun 2025 diprakirakan berada dalam kisaran 4,6-5,4%,” ucap Perry.

Perry memastikan BI pun ke depan masih terus mencari ruang untuk menurunkan suku bunga acuan, karena tekanan inflasi masih terus terkendali, dan rupiah tetap stabil dengan aliran modal asing yang masih deras masuk beriringan dengan cadangan devisa yang tebal.

Aliran masuk modal asing ke SBN pada awal triwulan III 2025 (hingga 14 Juli 2025) mencatat net inflows sebesar 0,9 miliar dolar AS, melanjutkan net inflows pada triwulan II 2025 sebesar 1,6 miliar dolar AS.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi sebesar 152,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Dengan berbagai catatan itu, ia pun memperkirakan ketahanan eksternal Indonesia yang tercermin dari neraca pembayaran Indonesia atau NPI akan mencatat defisit transaksi berjalan yang lebih rendah dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB.

“Dengan surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” tegas Perry.

Dari sisi nilai tukar rupiah, ia menyebut pada Juni 2025 (hingga 30 Juni 2025) menguat sebesar 0,34% (ptp) dibandingkan dengan posisi akhir bulan sebelumnya. Perkembangan terkini hingga pertengahan Juli 2025 (hingga 15 Juli 2025) menunjukkan Rupiah tetap stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Secara umum, perkembangan Rupiah relatif stabil bila dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang mitra dagang utama Indonesia dan terhadap kelompok mata uang negara maju di luar dolar AS, sehingga tetap mendukung daya saing ekspor Indonesia,” ucap Perry.

Adapun tekanan inflasi yang terkendali tercermin dari angka indeks harga konsumen atau IHK Juni 2025 1,87% (yoy) ditopang inflasi inti yang menurun, inflasi volatile food (VF) yang rendah, dan inflasi administered prices (AP) yang terkendali.

“Bank Indonesia meyakini makin rendahnya prakiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5±1%. Inflasi inti diprakirakan lebih rendah dari prakiraan seiring ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang memadai, imported inflation yang terkendali, dan dampak positif dari digitalisasi,” tegasnya.

Guna mendukung stabilitas ekonomi dan pertumbuhan lebih cepat, ia juga memperkuat bauran kebijakan, selain menurunkan suku bunga acuan, berikut ini rinciannya:

1. Penguatan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah yang sesuai dengan fundamental melalui intervensi baik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik maupun transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Strategi ini disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar keuangan;

2. Penguatan strategi operasi moneter pro-market guna makin memperkuat efektivitas transmisi penurunan suku bunga, menjaga kecukupan likuiditas, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas), serta mendorong aliran masuk modal asing, dengan:

– memperkuat efektivitas transmisi penurunan suku bunga melalui penyesuaian struktur suku bunga instrumen moneter dan swap valas dengan tetap menjaga daya tarik aliran masuk portofolio asing ke aset keuangan domestik;

– menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder; dan

– memperkuat peran dealer utama untuk meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan transaksi repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar;

3. Penguatan publikasi asesmen transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan pendalaman pada suku bunga kredit berdasarkan sektor prioritas yang menjadi cakupan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)-(Lampiran);

4. Perluasan akseptasi digital melalui: (i) peluncuran kerja sama QRIS Antarnegara dengan Jepang dan inisiasi sandbox QRIS Antarnegara dengan Tiongkok pada tanggal 17 Agustus 2025, serta (ii) penguatan edukasi dan sosialisasi QRIS Tanpa Pindai (TAP) kepada pengguna dan merchant; dan

5. Penguatan dan perluasan kerja sama internasional di area kebanksentralan, termasuk dengan memperkuat konektivitas sistem pembayaran dan transaksi menggunakan mata uang lokal, serta memfasilitasi penyelenggaraan promosi investasi dan perdagangan di sektor prioritas bekerja sama dengan instansi terkait.

(haa/haa)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



BI Rate Masih Berpotensi Dipangkas, Data Ini Jadi Penentunya!




Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Saham HSC Bakal Dikeluarkan, IHSG Bakal Terdilusi? Ini Penjelasan BEI

Saham HSC Bakal Dikeluarkan, IHSG Bakal Terdilusi? Ini Penjelasan BEI

October 26, 2026
Dasco Sebut Indonesia Akan Tentukan Rating Sendiri, OJK Buka Suara

Dasco Sebut Indonesia Akan Tentukan Rating Sendiri, OJK Buka Suara

October 26, 2026
IHSG Tiba-tiba Anjlok 1% Lebih, Ini Penyebabnya

IHSG Tiba-tiba Anjlok 1% Lebih, Ini Penyebabnya

October 26, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .