• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir

Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir

June 1, 2026
Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Kini Parkir di Rp18.100

Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Kini Parkir di Rp18.100

July 13, 2026
RMKE Stock Split Saham Rasio 1:5, Catat Jadwalnya

RMKE Stock Split Saham Rasio 1:5, Catat Jadwalnya

July 13, 2026
Genjot Likuiditas, Bank Milik Salim Perkuat Wealth Management

Genjot Likuiditas, Bank Milik Salim Perkuat Wealth Management

July 13, 2026
Ketidakpastian Masih Tinggi, IHSG Awal Pekan Bisa Terus Hijau?

Ketidakpastian Masih Tinggi, IHSG Awal Pekan Bisa Terus Hijau?

July 13, 2026
Rupiah Nelangsa & Tembus Rp 18.100 per USD, Apa Sebabnya?

Rupiah Nelangsa & Tembus Rp 18.100 per USD, Apa Sebabnya?

July 13, 2026
Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Intip Pergerakan Asing di Sesi 1

Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Intip Pergerakan Asing di Sesi 1

July 13, 2026
Bos OJK Buka Suara Soal Pengumuman S&P DJI

Bos OJK Buka Suara Soal Pengumuman S&P DJI

July 13, 2026
IHSG Sesi 1 Bertahan di Zona Hijau, Ditutup Naik 0,11%

IHSG Sesi 1 Bertahan di Zona Hijau, Ditutup Naik 0,11%

July 13, 2026
Bursa Korsel Trading Halt! Ambles 8%

Bursa Korsel Trading Halt! Ambles 8%

July 13, 2026
Gurita Bisnis Tan Kian, Raja Properti RI yang Jadi Saksi Kasus Febrie

Gurita Bisnis Tan Kian, Raja Properti RI yang Jadi Saksi Kasus Febrie

July 13, 2026
Emiten Konglomerat Happy Hapsoro (RAJA) Stock Split 1:5, Ini Jadwalnya

Emiten Konglomerat Happy Hapsoro (RAJA) Stock Split 1:5, Ini Jadwalnya

July 13, 2026
DSSA Beli Saham Pengendali EXCL Senilai Rp 8,54 Triliun

DSSA Beli Saham Pengendali EXCL Senilai Rp 8,54 Triliun

July 13, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Monday, July 13, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home News

Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir

1 month ago
in News
Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar obligasi Jepang tengah menghadapi tekanan besar. Ini setelah imbal hasil (yield) surat utang pemerintah melonjak ke level tertinggi dalam empat dekade.

Kondisi ini dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana anggaran tambahan pemerintah Jepang senilai 3 triliun yen atau sekitar US$19 miliar (Rp338,54 triliun, asumsi kurs Rp17.818/US$). Diketahui, Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi tengah menyiapkan anggaran tambahan untuk membantu rumah tangga menghadapi lonjakan biaya hidup akibat kenaikan harga energi yang dipicu konflik Iran.

Ya, dana tersebut akan digunakan untuk menambah cadangan fiskal serta mendanai subsidi bahan bakar dan utilitas. Namun, langkah ini justru memicu skeptisisme pasar terkait janji pemerintah untuk tidak menambah total penerbitan obligasi sepanjang 2026.

Perlu diketahui, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun sempat naik ke 2,809% pada 20 Mei, level tertinggi sejak 1996. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun menembus 4%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal dan tekanan inflasi yang terus meningkat.

“Pasar obligasi adalah banyak hal, tetapi mereka tidak bodoh,” kata Direktur Ahli Monex Group, Jesper Koll, dimuat CNBC International, Senin (1/6/2026).

“Anda tidak dapat meningkatkan pengeluaran tanpa meningkatkan utang,” tambahnya.

Kekhawatiran juga muncul setelah Takaichi menggunakan acuan tahun kalender 2026 dalam menjelaskan target penerbitan obligasi. Menurut analis, pendekatan itu tidak lazim karena Jepang selama ini menggunakan tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret.

“Tidak ada seorang pun di Jepang yang pernah membuat kebijakan berdasarkan tahun kalender,” kata Koll.

“Jika ada tanda bahaya, itu adalah tanda bahaya,” ujarnya.

Analis lain, pengamat riset ekuitas untuk Asia di Julius Baer, Louis Chua, juga mengatakan demikian. Apalagi ada ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, ditambah tingginya harga komoditas, serta peningkatan beban subsidi energi, yang memperburuk sentimen pasar terhadap posisi fiskal Jepang.

“Perkembangan terkini- termasuk ketidakpastian yang berkelanjutan di Timur Tengah, harga komoditas yang tinggi, dan pengeluaran subsidi bahan bakar yang meningkat- telah berkontribusi pada kekhawatiran pasar obligasi tentang posisi fiskal Jepang tahun ini,” tegasnya.

Namun, tidak semua analis melihat paket tersebut sebagai sesuatu yang mengganggu. Ekonom APAC State Street Investment Management, Krishna Bhimavarapu misalnya, menyebut langkah pemerintah tetap sejalan dengan pendekatan fiskal Takaichi yang cenderung hati-hati.

“Kami tetap secara struktural optimis terhadap Jepang, baik pada ekonomi maupun pasar,” menurutnya,

“Anggaran tambahan tersebut tampak kurang seperti stimulus luas dan lebih seperti bantalan yang ditargetkan untuk rumah tangga yang menghadapi tekanan harga yang didorong oleh energi yang terkait dengan konflik Iran,” ujarnya.

“Itu membuatnya konsisten dengan filosofi Perdana Menteri Takaichi daripada dorongan permintaan skala besar.”

Sebenarnya, data terbaru telah meninjukan perbaikan ekonomi Jepang. Ekonomi tumbuh pada laju tahunan 2,1% pada kuartal pertama (Q1), dengan PDB riil naik 0,5% dari kuartal sebelumnya.

Ekspor naik 14,8% pada bulan April dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh pengiriman semikonduktor yang kuat dan permintaan terkait AI.

Namun bagi investor, perhatian kini tertuju pada risiko inflasi, potensi kenaikan suku bunga bank sentral, Bank of Japan (BOJ). Termasuk kemungkinan tambahan pasokan obligasi yang dapat semakin menekan pasar surat utang Jepang.

(sef/sef)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
IHSG Lanjut Reli, Lompat 1,84% Tembus Level 8.200

IHSG Lanjut Reli, Lompat 1,84% Tembus Level 8.200

October 21, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Kini Parkir di Rp18.100

Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Kini Parkir di Rp18.100

July 13, 2026
RMKE Stock Split Saham Rasio 1:5, Catat Jadwalnya

RMKE Stock Split Saham Rasio 1:5, Catat Jadwalnya

July 13, 2026
Genjot Likuiditas, Bank Milik Salim Perkuat Wealth Management

Genjot Likuiditas, Bank Milik Salim Perkuat Wealth Management

July 13, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .