Jakarta, CNBC Indonesia — Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai pelemahan pasar saham Indonesia lebih dipengaruhi oleh sentimen dan persepsi investor ketimbang memburuknya fundamental emiten maupun kondisi ekonomi domestik.
Menurut Misbakhun, indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang solid. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, inflasi, hingga kondisi sektor perbankan masih berada dalam kondisi yang baik sehingga tidak seharusnya memicu arus modal keluar dan membuat tekanan di pasar saham.
“Walaupun saham mereka turun karena persepsi. Masalahnya adalah Amerika dan suku bunganya dalam dolar, kemudian kita persepsi macam-macam,” ujar Misbakhun dalam Investment Forum 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (15/6/2026).
Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV tahun lalu mencapai 5,39% dan meningkat menjadi 5,61% pada kuartal I tahun ini. Menurutnya, angka tersebut merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20.
Selain itu, cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang kuat meski turun menjadi sekitar US$145 miliar dari sebelumnya sempat mencapai sekitar US$156 miliar. Inflasi juga masih berada dalam kisaran target pemerintah, sementara neraca perdagangan disebut telah mencatat surplus selama 61 bulan berturut-turut.
Di sektor keuangan, Misbakhun menegaskan kondisi perbankan nasional tetap sehat. Menurutnya, tidak ada bank yang memerlukan penanganan khusus dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sementara itu, dari sisi korporasi, ia mengakui terdapat sejumlah persoalan pada emiten sektor infrastruktur maupun beberapa kasus gagal bayar. Namun, ia menilai dampaknya terhadap sistem keuangan secara keseluruhan masih terbatas dan pemerintah telah menyiapkan langkah penyelesaian.
Ia juga menyoroti emiten-emiten perbankan, khususnya bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yang tetap membukukan kinerja kuat dan konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham.
Karena itu, Misbakhun menilai tekanan yang terjadi di pasar saham lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama tingginya suku bunga di Amerika Serikat yang memicu perubahan persepsi investor terhadap pasar negara berkembang.
Di sisi lain, ia mengatakan pemerintah terus memperkuat fondasi sistem keuangan melalui implementasi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Regulasi tersebut, menurutnya, memperkuat stabilitas sistem keuangan, mengembangkan aset digital termasuk bursa kripto, serta mendorong diversifikasi instrumen investasi di Indonesia.
Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan turun lebih dari 30%. IHSG mengalami koreksi ditekan oleh sejumlah saham-saham berkapitalisasi besar.
Sementara itu, seiring dengan aliran dana asing yang keluar sebesar Rp 76,85 triliun sejak awal tahun hingga 14 Juli 2026.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google

















