
Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/8/2026), sekaligus mematahkan tren penguatan selama empat hari perdagangan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,45% ke posisi Rp17.830/US$. Setelah di perdagangan sebelumnya, Senin (10/8/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,75% ke level Rp17.750/US$.
Tekanan terhadap rupiah telah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,17% di posisi Rp17.780/US$, kemudian bergerak dalam rentang Rp17.770-Rp17.850/US$ sepanjang hari.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,07% ke posisi 99,883.
DXY berbalik menguat setelah pada pagi hari sempat melemah 0,06%. Pergerakan tersebut melanjutkan kenaikan sebesar 0,27% yang dibukukan indeks dolar pada perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika pelaku pasar menantikan pengumuman inflasi konsumen AS periode Juli pada Rabu (12/8/2026) waktu setempat. Data tersebut akan menjadi petunjuk terbaru dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Dolar AS sebelumnya mendapat dukungan dari harga minyak yang naik lebih dari 4% kemarin. Harga energi meningkat setelah Iran dan AS saling mengajukan tuntutan kompensasi, yang memperkecil harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi AS. Meski demikian, ruang penguatan dolar masih dibatasi oleh data ketenagakerjaan yang jauh lebih lemah dari perkiraan.
Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 52%, turun dari 67% sepekan sebelumnya.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran pada Juni 2026 tumbuh 0,7% secara bulanan setelah terkontraksi 1,5% pada Mei. Pertumbuhan ditopang oleh penjualan barang lainnya, suku cadang dan aksesori, serta perlengkapan rumah tangga, seiring terjaganya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
Pasar juga masih mencermati proses pergantian kepemimpinan BI. Komisi XI DPR RI akan menjadwalkan uji kepatutan dan kelayakan terhadap Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI setelah masa reses DPR berakhir.
Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 25 Juli 2026. Kepastian jadwal uji kelayakan masih menunggu koordinasi pimpinan Komisi XI DPR.
(evw/evw)


















