
Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara terkait calon Anggota Dewan Komisioner OJK pengawas bursa mineral dan komoditas strategis. Nantinya, OJK akan menambah satu posisi Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (KEBMKS).
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengaku, pihaknya telah mendapat informasi dari Menteri Sektetariat Negara (Mensesneg) bahwa sosok yang akan menduduki jabatan tersebut telah di bawah ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Artinya, Presiden Prabowo Subianto mengirimkan surat presiden (surpres) kepada DPR RI.
“Nah itu namanya kemarin saya diinfokan oleh Pak Mensesneg, sudah masuk ke DPR surat dari Bapak Presiden. Kalau untuk namanya tanya ke beliau ya,” ujarnya saat ditemui di Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Wanita yang akrab disapa Kiki ini mengatakan, harapannya sosok calon tersebut dapat bekerja sama dengan para Anggota Dewan Komisioner OJK lainnya dalam menjalankan mandat undang-undang dengan baik.
“Karena ini sesuatu yang baru dan ini adalah harapan kita semua yang sangat besar terhadap BMKS ini,” ucapnya.
Kiki percaya pada pilihan Presiden yang mengisi jabatan tersebut dapat menjalankan amanahnya dengan baik. Karena sektor ini karena sektor baru dan mandat besar yang merupakan implementasi dari Pasal 33 Undang-Undang 45 tersebut.
Menurutnya, dengan adanya Bursa Mineral dan Komoditas Strategis dapat menghindari penetapan harga yang terlalu rendah (under pricing) dan penerbitan faktur yang terlalu rendah (under invoicing).
Selanjutnya, OJK juga sudah tugas dan persiapan struktur organisasinya. Kemudian akan diikuti dengan persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang tersebut. “Jadi semua yang kita siapkan sambil menunggu siapa nanti orang yang akan menjadi kepala eksekutif tersebut,” imbuhnya.
“Kami mempercayai pilihan Bapak Presiden, pasti terbaik, putra putri terbaik Indonesia untuk menduduki posisi yang sangat penting. Ini merupakan suatu yang baru buat negara kita, suatu yang baru,” lanjutnya.
Kiki menambahkan, jika mengacu pada bursa China dengan perdagangan serupa, potensi perputaran ekonomi di sektor komoditas sangat menjanjikan.
“Itu kalau kita belajar dari China misalnya, itu bursa yang untuk komoditas itu sangat maju kita belajar dari sana. Jadi ini bukan sesuatu yang di awal-awal, enggak. Negara lain sudah melakukan, jadi kita justru semangat untuk bagaimana bumi dan air dan kekayaan terkandung dalamnya itu untuk sebesar besarnya bermanfat untuk bangsa dan negara,” tutupnya.
(fsd/fsd)


















