
Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti blak-blakan penyebab defisit transaksi berjalan Indonesia tekor besar hingga membuat rupiah mudah tertekan saat terjadi gejolak global.
Pada kuartal II-2026, defisit neraca pembayaran sudah melampaui 3%, tepatnya sebesar 3,34% terhadap produk domestik bruto (PDB), naik tajam dibandingkan 0,97% pada kuartal I-2026. Nilainya minus sebesar US$12,49 miliar dari sebelumnya US$ 3,58 miliar.
“Nah sekarang ini memang kita menghadapi defisit. Defisit bahkan di kuartal kedua kemarin untuk transaksi berjalan kita, current account defisit kita mencapai di atas 3%,” kata Destry dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Destry mengatakan, penyebab utama tekornya transaksi berjalan Indonesia saat ini disebabkan masih besarnya kebutuhan impor energi. Makanya, pemerintah kata dia sudah berusaha menangani masalah ini dengan menggencarkan bauran energi seperti B50 maupun E50.
“Ini akan mengurangi impor energi kita yang sekarang ini benar-benar menyebabkan juga defisit kita membesar. Sehingga ujung-ujungnya kemana? Kenanya ke currency kita. Nah itulah kenapa strategi export promotion dan import substitution itu menjadi kunci,” tutur Destry.
Di tengah tertekannya defisit transaksi berjalan Indonesia, kurs pun belum Rupiah belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan awal pekan ini.
Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan Senin (26/10/2026) dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,39% ke level Rp18.110/US$, dibandingkan penutupan Jumat (23/10/2026) di Rp18.040/US$.
Posisi tersebut menjadi penutupan terlemah rupiah sejak awal Juni 2026 atau dalam 4 bulan terakhir.
Tekanan sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan, ketika rupiah melemah 0,06% ke posisi Rp18.050/US$. Pelemahan kemudian berlanjut hingga rupiah sempat menyentuh Rp18.130/US$.
Menjelang penutupan, tekanan sedikit mereda. Rupiah memangkas pelemahannya sebesar 20 poin dari posisi terlemah hari ini, meski tetap berakhir 60 poin lebih lemah dibandingkan pembukaan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 101,802.
(arj/arj)

















