• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

April 17, 2026
Bukan Cuma Jakarta! Ini Daftar Kota dengan Biaya Hidup Termahal

Bukan Cuma Jakarta! Ini Daftar Kota dengan Biaya Hidup Termahal

October 25, 2026
Kenapa Dolar AS Terus Menguat? Bikin Rupiah Tertekan ke Rp18.000/US$

Kenapa Dolar AS Terus Menguat? Bikin Rupiah Tertekan ke Rp18.000/US$

October 25, 2026
9 Perusahaan Sedang Antre IPO, Ini Bocoran BEI

9 Perusahaan Sedang Antre IPO, Ini Bocoran BEI

October 25, 2026
Cuan Trading Rp7,2 Miliar, Tentara Ini Terancam Dipenjara 20 Tahun

Cuan Trading Rp7,2 Miliar, Tentara Ini Terancam Dipenjara 20 Tahun

October 25, 2026
Dijatuhkan MSCI, Bursa Ini Berhasil Bangkit Lagi Jadi Developed Market

Dijatuhkan MSCI, Bursa Ini Berhasil Bangkit Lagi Jadi Developed Market

October 25, 2026
Ramal Nasib Rupiah Hingga Saham Terdampak Era Bunga Tinggi

Ramal Nasib Rupiah Hingga Saham Terdampak Era Bunga Tinggi

October 25, 2026
Pastikan Kebutuhan Energi Terjaga, Pertamina Perkuat Distribusi BBM

Pastikan Kebutuhan Energi Terjaga, Pertamina Perkuat Distribusi BBM

October 25, 2026
Raja Mobil Dunia Diambang Kebangkrutan, Tandanya Makin Terlihat

Raja Mobil Dunia Diambang Kebangkrutan, Tandanya Makin Terlihat

October 24, 2026
Bos Pinjol Respons Hakim PN Jakpus Batalkan Putusan Kartel Bunga KPPU

Bos Pinjol Respons Hakim PN Jakpus Batalkan Putusan Kartel Bunga KPPU

October 24, 2026
Singapura Sebut PT PML Penyebab Karhutla RI, Emiten Ini Buka Suara

Singapura Sebut PT PML Penyebab Karhutla RI, Emiten Ini Buka Suara

October 24, 2026
2 Ketegori Aset Kripto Dapat ‘Kode’ Halal dari MUI, Ini Bocorannya

2 Ketegori Aset Kripto Dapat ‘Kode’ Halal dari MUI, Ini Bocorannya

October 24, 2026
Kata-Kata Bos Danantara Soal Harga Saham Saat Sentimen MSCI Melanda

Kata-Kata Bos Danantara Soal Harga Saham Saat Sentimen MSCI Melanda

October 24, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Sunday, October 25, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home News

Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

6 months ago
in News
Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati
Share on FacebookShare on Twitter




‎Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyarankan Bank Indonesia untuk tetap menahan suku bunga di 4,75%.
‎
‎Hal ini mempertimbangkan kondisi inflasi yang berada di atas target hingga nilai tukar rupiah yang tertekan oleh konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS).
‎
‎”LPEM FEB UI merekomendasikan Bank Indonesia menahan suku bunga di 4,75%. Pertimbangan tidak lepas dari kondisi inflasi yang berada di atas target namun masih menghadapi tekanan kompleks. Berkurangnya efek diskon tarif listrik telah menahan inflasi, namun risiko kenaikan tetap ada terutama dari lonjakan permintaan saat Ramadhan dan Idul Fitri serta kenaikan harga energi global,” mengutip artikel resmi LPEM FEB UI pada Jumat (17/4/2026).

‎
‎”Di saat yang sama, konflik antara AS-Iran menekan rupiah. Pelemahan ini datang dari kombinasi faktor global dan kerentanan domestik,” sambungnya.
‎
‎LPEM FEB UI juga memaparkan bahwa penurunan suku bunga BI saat ini memiliki tiga risiko utama. Pertama, mempersempit selisih bunga dengan luar negeri. Kedua, menambah tekanan pada rupiah, dan terakhir adalah mendorong inflasi lewat kenaikan harga impor dan energi.
‎
‎LPEM FEB UI juga menyoroti kondisi sektor keuangan Indonesia yang dalam sebulan terakhir penuh dengan gejolak. Hal ini juga turut menjadi faktor pertimbangan rekomendasi LPEM FEB UI untuk menahan laju suku bunga.

‎
‎Diawali dengan MSCI acuan utama investor global lebih dulu memberi sinyal negatif, yang disusul Moody’s lembaga pemeringkat kredit global yang menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif.
‎
‎”Di sinilah pasar mulai ragu,” imbuh LPEM FEB UI.
‎
Untungnya, ‎pemerintah merespons cepat dengan merombak Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) dan menerbitkan aturan transparansi free float saham. Upaya perbaikan tata kelola mulai ditunjukkan. Namun LPEM FEB UI menilai kepercayaan belum pulih.
‎
‎Tekanan pun semakin dalam karena pada 4 Maret 2026, Fitch Ratings turut menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif. Alasannya adalah ketidakpastian arah kebijakan, tekanan fiskal di tengah kondisi global yang tidak stabil.
‎
‎Tidak berselang lama, harga minyak melonjak hingga US$99 per barel akibat konflik AS-Iran.

‎
‎”Angka ini jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Akibatnya muncul kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah menjaga defisit tetap di bawah batas 3%,” kata LPEM FEB UI.
‎
‎Kemudian, pemerintah merespon dengan menggelar konferensi pers pada 13 Maret 2026. Di mana, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan tiga skenario defisit dari 3,18% pada skenario optimis hingga 4,06% pada skenario terburuk tergantung pada konflik harga minyak dan nilai tukar.
‎
‎Sehari berselang, Presiden Prabowo mengambil posisi berbeda. Dalam rapat kabinet, ia menyatakan tidak akan melebarkan defisit, dengan fokus pada penghematan dan target keseimbangan anggaran dalam 2-3 tahun.
‎
‎”Perbedaan pernyataan ini justru mengirim sinyal negatif. Pemerintah dinilai mulai menjauh dari prinsip kehati-hatian fiskal yang telah dibangun dan dijaga sejak era reformasi,” ucap LPEM FEB UI.
‎
‎Tekanan pun merambat ke pasar keuangan. LPEM FEB UI mencatat arus keluar obligasi bersih mencapai US$0,77 miliar sejak 28 Februari 2026. Sementara pasar saham mengalami inflow tipis US$0,03% akibat pergeseran sektor energi.

‎
‎Secara total, US$0,63 miliar modal keluar dalam 30 hari dan sebesar US$0,75 miliar modal keluar sejak konflik Iran dengan AS dimulai.
‎
‎Di sisi lain, yield SBN tenor 1 tahun meningkat 83 basis poin menjadi 5,65% dan untuk tenor 10 tahun naik 36 basis poin menjadi 3 basis poin.
‎
‎”Premi risiko meningkat secara luas. Pasar mulai memperhitungkan ketidakpastian ekonomi yang lebih tinggi,” konklusi LPEM FEB UI.
‎
‎Nilai tukar rupiah juga turut merasakan dampaknya. Rupiah mendekati titik terlemah dan turun sekitar 3,64% secara tahunan (yoy).
‎
‎Pada saat yang sama, bantalan eksternal ikut tergerus. Cadangan devisa pada Februari 2026 turun US$ 2,7 miliar, dari US$ 154,6 miliar menjadi US$ 151,9 miliar.
‎
‎”Menjadi penurunan bulanan terbesar sejak April 2025. Penurunan ini mencerminkan kombinasi antara upaya stabilisasi rupiah, namun juga kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.”
‎
‎

(haa/haa)



Add



as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share197Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Bukan Cuma Jakarta! Ini Daftar Kota dengan Biaya Hidup Termahal

Bukan Cuma Jakarta! Ini Daftar Kota dengan Biaya Hidup Termahal

October 25, 2026
Kenapa Dolar AS Terus Menguat? Bikin Rupiah Tertekan ke Rp18.000/US$

Kenapa Dolar AS Terus Menguat? Bikin Rupiah Tertekan ke Rp18.000/US$

October 25, 2026
9 Perusahaan Sedang Antre IPO, Ini Bocoran BEI

9 Perusahaan Sedang Antre IPO, Ini Bocoran BEI

October 25, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .