
Jakarta, CNBC Indonesia – Penyaluran pembiayaan alat berat oleh perusahaan pembiayaan atau multifinance masih tertahan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan alat berat per Agustus 2026 hanya tumbuh tipis 0,12% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp48,50 triliun.
Meski begitu, OJK memperkirakan pembiayaan alat berat masih akan tumbuh positif ke depan, sejalan dengan aktivitas sektor-sektor pengguna alat berat.
“Ke depan, pembiayaan alat berat diperkirakan tetap tumbuh positif seiring dengan perkembangan aktivitas pada sektor-sektor pengguna alat berat, meskipun menghadapi tantangan antara lain dinamika perekonomian global,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perusahaan Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman dalam jawaban tertulis Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) September 2026, dikutip Selasa (13/10/2026).
Peluang dari Proyek Energi Terbarukan
OJK melihat proyek energi terbarukan bisa menjadi sumber pertumbuhan baru bagi pembiayaan alat berat. Program pemerintah seperti pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 GWp hingga Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) diperkirakan membutuhkan alat berat dalam pengerjaannya.
“Pengembangan proyek energi terbarukan dapat menjadi peluang diversifikasi pembiayaan alat berat oleh multifinance,” kata Agusman.
Lesunya pembiayaan alat berat sejalan dengan melemahnya pembiayaan multifinance di sektor produktif. Per Agustus 2026, pembiayaan multifinance ke sektor produktif terkontraksi 1,81% yoy menjadi Rp241,88 triliun, atau 44,44% dari total piutang pembiayaan.
Pembiayaan investasi juga turun 4,47% yoy menjadi Rp169,12 triliun. Sebaliknya, pembiayaan modal kerja tumbuh 5,40% menjadi Rp54,38 triliun, dan pembiayaan multiguna naik 4,58% yoy menjadi Rp257,38 triliun.
“Penyaluran pembiayaan ke sektor produktif terus didorong dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, manajemen risiko, dan tata kelola yang baik,” ujar Agusman.
Di segmen UMKM, pembiayaan multifinance tercatat Rp157,37 triliun. Porsi terbesarnya masih pembiayaan investasi, yaitu Rp83,55 triliun atau 53,09%.
Laba Multifinance Justru Naik
Di tengah lesunya pembiayaan produktif, kinerja laba multifinance justru menguat. Laba bersih industri multifinance per Agustus 2026 tumbuh 19,04% yoy menjadi Rp17,38 triliun. OJK memperkirakan laba industri tetap tumbuh positif hingga akhir 2026.
Kendaraan bermotor masih menjadi portofolio utama, meski penyalurannya juga melemah. Total pembiayaan kendaraan bermotor oleh multifinance terkontraksi 0,68% yoy menjadi Rp403,02 triliun. Sementara itu, pembiayaan kendaraan listrik/hybrid melonjak 34,67% yoy menjadi Rp26,20 triliun.
Saat ini terdapat 144 perusahaan pembiayaan, terdiri atas 141 perusahaan pembiayaan konvensional dan 3 perusahaan pembiayaan syariah full fledged. OJK menyebut belum ada pengajuan izin usaha perusahaan pembiayaan baru, tetapi OJK tengah memproses sejumlah permohonan perubahan kepemilikan, merger, dan akuisisi.
(fsd/fsd)



















