Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (11/6/2026).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah 0,17% ke level Rp17.980/US$. Posisi ini sekaligus mengakhiri penguatan rupiah dalam dua hari perdagangan beruntun sebelumnya.
Sepanjang perdagangan, rupiah sebetulnya sempat mengawali hari dengan penguatan sebesar 0,14% ke level Rp17.925/US$. Namun, seiring berjalannya perdagangan, tekanan kembali datang hingga rupiah berbalik melemah dan bertahan di zona merah sampai penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke level 99,979.
Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan menguatnya dolar AS di pasar global. Penguatan greenback membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.
Dolar AS bergerak stabil cenderung menguat karena pelaku pasar masih mencermati perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah dan data inflasi Amerika Serikat (AS), menjelang keputusan kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada 17 Juni mendatang.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Namun, di saat yang sama, lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz disebut masih tetap berjalan. Kondisi ini membuat pasar masih berhati-hati dalam menilai risiko pasokan energi global.
Sementara dari sisi data ekonomi, inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2% pada Mei 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski begitu, pelaku pasar juga mencermati inflasi inti secara bulanan yang melandai lebih dalam dari perkiraan menjadi 0,2%.
Kondisi tersebut memberi ruang bagi bank sentral AS untuk tidak terburu-buru dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Meski demikian, dolar AS masih bertahan kuat karena kombinasi ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian utama pasar.
Dari dalam negeri, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sufmi Dasco Ahmad menilai pergerakan rupiah saat ini turut dipengaruhi oleh meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap pemerintah.
Dasco meyakini rupiah masih memiliki ruang untuk kembali menguat seiring kinerja pemerintah dalam memperbaiki perekonomian. Menurutnya, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah strategi khusus untuk mendukung penguatan nilai tukar.
“Saya juga mendapatkan informasi dari pihak pemerintah dalam minggu ini dan ke depan, ada strategi-strategi khusus yang akan dilakukan oleh pemerintah yang kalau saya sudah dengar akan dan saya yakini akan membuat nilai tukar rupiah menguat,” jelasnya.
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google


















