• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Ternyata! Family Office Ketakutan Hadapi Depresiasi Dolar

Ternyata! Family Office Ketakutan Hadapi Depresiasi Dolar

October 26, 2025
SMLE Blak-Blakan Alasan Jual 50% Saham Anak ke Perusahaan Denmark

SMLE Blak-Blakan Alasan Jual 50% Saham Anak ke Perusahaan Denmark

October 15, 2026
Video: Risiko Gangguan Pasokan Minyak

Video: Risiko Gangguan Pasokan Minyak

October 15, 2026
Akhir Sesi I, IHSG Ditutup Anjlok 2,16%

Akhir Sesi I, IHSG Ditutup Anjlok 2,16%

October 15, 2026
Video:Houthi Ancam Serang Lagi Saudi, IHSG Ambrol 1% Lebih ke 5.800-an

Video:Houthi Ancam Serang Lagi Saudi, IHSG Ambrol 1% Lebih ke 5.800-an

October 15, 2026
Houthi Ancam Serang Lagi Saudi, IHSG Ambrol 1% Lebih ke Level 5.800

Houthi Ancam Serang Lagi Saudi, IHSG Ambrol 1% Lebih ke Level 5.800

October 15, 2026
Diam-Diam Mau Ada Pengendali Baru di Emiten Pertambangan Emas (SQMI)

Diam-Diam Mau Ada Pengendali Baru di Emiten Pertambangan Emas (SQMI)

October 15, 2026
Pasar Saham Kebakaran

Pasar Saham Kebakaran

October 15, 2026
Ada yang Borong Saham MAPI Rp285,5 Miliar di Harga Rp1.523

Ada yang Borong Saham MAPI Rp285,5 Miliar di Harga Rp1.523

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok 2%

Breaking! IHSG Anjlok 2%

October 15, 2026
IHSG Anjlok 2%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok 2%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

Breaking! IHSG Anjlok 2% Lebih

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok Diatas 2%

Breaking! IHSG Anjlok Diatas 2%

October 15, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Thursday, October 15, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home Market

Ternyata! Family Office Ketakutan Hadapi Depresiasi Dolar

12 months ago
in Market
Ternyata! Family Office Ketakutan Hadapi Depresiasi Dolar
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Survei terbaru yang dirilis oleh RBC Wealth Management bersama Campden Wealth mengungkapkan bahwa perusahaan keluarga atau family office kini bersikap lebih hati-hati dalam berinvestasi. Hal ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru pada awal April lalu.

Mengutip CNBC Internasional, Minggu (26/10/2025), dalam survei terhadap 141 perusahaan pengelola kekayaan keluarga ultra-kaya di Amerika Utara, sebanyak 52% responden menilai bahwa uang tunai dan aset likuid lainnya akan memberikan imbal hasil terbaik dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, lebih dari 30% responden meyakini bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menawarkan imbal hasil terbaik.

Dalam survei tahun sebelumnya, ekuitas pertumbuhan dan industri pertahanan menjadi pilihan paling populer, masing-masing mencapai kurang dari sepertiga responden.

Family office juga menurunkan ekspektasi imbal hasil tahun 2025, melaporkan rata-rata imbal hasil portofolio yang diharapkan sebesar 5% untuk tahun ini, turun dari 11% pada tahun 2024. Sebanyak 15% responden bahkan memperkirakan imbal hasil negatif, padahal hampir tidak ada yang berpandangan demikian pada tahun sebelumnya.

Prioritas investasi paling populer untuk tahun 2025 adalah peningkatan likuiditas, yang dipilih oleh hampir separuh family offices. Sedangkan pilihan teratas tahun lalu, dengan 34%, adalah diversifikasi portofolio.

Survei dilakukan dari April hingga Agustus. Bill Ringham dari RBC Wealth Management mengatakan bahwa gejolak pasar akibat tarif dan ketegangan geopolitik memainkan “peran penting” dalam hasil jajak pendapat yang pesimistis.

Meskipun pasar AS telah pulih ke rekor tertinggi sejak musim semi, family offices masih memiliki alasan lain untuk bersikap pesimis. Sebanyak 52% responden survei menyebutkan depresiasi dolar AS sebagai risiko pasar yang mungkin terjadi.

Nilai tukar dolar telah turun hampir 9% sejak awal tahun, dan bank-bank termasuk UBS memperkirakan depresiasi akan terus berlanjut. Selain kekhawatiran terhadap dolar, family office juga menghadapi kinerja lesu di sektor ekuitas swasta dan modal ventura.

Hampir seperempat responden mengatakan dana ekuitas swasta belum mencapai imbal hasil investasi yang diharapkan untuk tahun 2025, sementara 15% lainnya mengatakan hal yang sama untuk investasi langsung ekuitas swasta. Modal ventura mencatat sentimen bersih terendah, dengan 33% responden melaporkan imbal hasil yang tidak memuaskan.

Meskipun demikian, family offices berbondong-bondong meningkatkan alokasi dana ke kas, tidak hanya untuk memitigasi risiko, tetapi juga sebagai langkah strategis guna memanfaatkan peluang investasi yang mungkin muncul di masa depan.

“Mereka memiliki visi yang jauh lebih panjang tentang warisan dan keluarga mereka,” kata Ringham, yang mengarahkan strategi kekayaan pribadi untuk divisi RBC AS.

“Dengan melakukan ini, mereka mungkin menciptakan modal untuk memanfaatkan peluang yang mereka lihat muncul di pasar,” tambahnya.

Optimisme yang berhati-hati ini, kata Ringham, tercermin dari perubahan rencana alokasi aset para responden. Hanya sekitar 3% family office yang berencana meningkatkan alokasi dana ke kas dan aset likuid, jauh lebih kecil dibandingkan 20% yang ingin menambah investasi di ekuitas swasta langsung, serta 13% di dana ekuitas swasta.

Menurut dia, investasi di pasar swasta kini dianggap sebagai langkah penting untuk membangun kekayaan jangka panjang cukup besar untuk melampaui inflasi dan menopang kebutuhan keluarga yang terus bertumbuh.

(ven/haa)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



Crazy Rich China Ramai-Ramai Tinggalkan Singapura, Ini Penyebabnya




Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

Dirut TBS Energi (TOBA) Borong 335.000 Saham di Harga Segini

August 8, 2025
Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

Bukan Cuma Prajogo, Ini Grup Konglomerat yang Jadi Biang IHSG Hijau

August 8, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
SMLE Blak-Blakan Alasan Jual 50% Saham Anak ke Perusahaan Denmark

SMLE Blak-Blakan Alasan Jual 50% Saham Anak ke Perusahaan Denmark

October 15, 2026
Video: Risiko Gangguan Pasokan Minyak

Video: Risiko Gangguan Pasokan Minyak

October 15, 2026
Akhir Sesi I, IHSG Ditutup Anjlok 2,16%

Akhir Sesi I, IHSG Ditutup Anjlok 2,16%

October 15, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .