• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Jangan Kami Dinilai Ingin Menaikkan Penerimaan

Jangan Kami Dinilai Ingin Menaikkan Penerimaan

May 18, 2026
Rupiah Melemah & Dana Asing Keluar, Bos BI Blak-blakan Penyebabnya

Rupiah Melemah & Dana Asing Keluar, Bos BI Blak-blakan Penyebabnya

May 18, 2026
Gubernur BI Sebut Nilai Tukar Rupiah Akhir Tahun Bisa Rp 16.500/US$

Gubernur BI Sebut Nilai Tukar Rupiah Akhir Tahun Bisa Rp 16.500/US$

May 18, 2026
Kinerja IHSG Sepanjang Tahun Berjalan Ternyata Terburuk di Dunia

Kinerja IHSG Sepanjang Tahun Berjalan Ternyata Terburuk di Dunia

May 18, 2026
IHSG Pangkas Koreksi, Ditutup Turun 1,85% Hari Ini

IHSG Pangkas Koreksi, Ditutup Turun 1,85% Hari Ini

May 18, 2026
Bos BI Ungkap Besarnya Dana Asing Keluar dari RI, Jumlahnya Segini

Bos BI Ungkap Besarnya Dana Asing Keluar dari RI, Jumlahnya Segini

May 18, 2026
NIlai Tukar Rupiah Terendah Sepanjang Masa, Dolar AS Kini Rp17.640

NIlai Tukar Rupiah Terendah Sepanjang Masa, Dolar AS Kini Rp17.640

May 18, 2026
OJK Kasih Sinyal Bank Mini yang Perlu Merger

OJK Kasih Sinyal Bank Mini yang Perlu Merger

May 18, 2026
Luhut Kumpulkan Petinggi OJK, Bahas Reformasi Pasar Modal-Nasib Rupiah

Luhut Kumpulkan Petinggi OJK, Bahas Reformasi Pasar Modal-Nasib Rupiah

May 18, 2026
Luhut Bocorkan Pesan MSCI ke Bos OJK, Ini Isinya

Luhut Bocorkan Pesan MSCI ke Bos OJK, Ini Isinya

May 18, 2026
Analis Ungkap Alasan IHSG Anjlok 4%, Investor Wajib Pantau Hal Ini

Analis Ungkap Alasan IHSG Anjlok 4%, Investor Wajib Pantau Hal Ini

May 18, 2026
Zaman Pak Habibie Rupiah Pernah Balik ke Rp6.000

Zaman Pak Habibie Rupiah Pernah Balik ke Rp6.000

May 18, 2026
Bos BI Pede Rupiah Perkasa Lagi Juli-Agustus 2026, Ini Alasannya!

Bos BI Pede Rupiah Perkasa Lagi Juli-Agustus 2026, Ini Alasannya!

May 18, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Monday, May 18, 2026
Indonesian Business Times
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Indonesian Business Times
No Result
View All Result
Home Market

Jangan Kami Dinilai Ingin Menaikkan Penerimaan

2 hours ago
in Market
Jangan Kami Dinilai Ingin Menaikkan Penerimaan
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meminta seluruh pihak jangan menganggap tekanan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus terjadi beberapa hari terakhir disebabkan keinginan BI untuk menaikkan neraca penerimaan anggaran.

Ia mengatakan, sejauh ini, BI pun tak pernah memikirkan apa yang dilakukan semata untuk neraca anggaran, karena surplus neraca anggaran justru paling banyak dikembalikan kepada negara, baik itu dalam bentuk setoran pajak maupun penarikan sisa lebih surplus ke kas negara.

“Kami tidak ada niatan semuanya untuk neraca BI, surplusnya ya ke pemerintah semua, pajak nya tinggi kami bayar juga,” ucap Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (18/5/2026).

“Jadi, kami kalau penerimaan tadi jangan kami dinilai karena kami ingin menaikkan, kan pajak kami bayar, surplus kami kembalikan, jadi penerimaan itu juga kembali kepada negara, tapi kami pertimbangkan bagaimana benefit and cost secara nasional,” tegasnya.

Ketimbang mempertimbangkan neraca anggaran, Perry menekankan, langkah-langkah BI dalam menjaga stabilitas kurs sepenuhnya mempertimbangkan beban biaya ekonomi secara nasional.

Bila ingin kurs dipertahankan di level Rp 16.500 sebagaimana asumsi untuk sepanjang tahun ini, maka ada biaya yang ditanggung secara nasional, baik itu berupa kenaikan suku bunga, ataupun pengetatan likuiditas karena kebutuhan besar intervensi transaksi rupiah terhadap dolar AS.

“Karena ini harus diukur berapa intervensinya, berapa kenaikan suku bunga dan segala macam sehingga kita harus lihat benefit and cost secara nasional,” papar Perry.

Terlepas dari itu, Perry percaya diri, hingga akhir tahun nanti, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan kembali ke nilai kisaran Rp16.200-16.800, meskipun saat ini sudah menembus level atas Rp 17.660/US$.

“Kami lihat dengan keyakinan, karena pada April, Mei, Juni memang demandnya tinggi tapi mulai Juli-Agustus, dan September rupiah akan menguat dan keseluruhan tahun kami masih yakini rata-rata nilai tukar rupiah masih dalam kisaran APBN Rp 16.800 kami coba bisa gak dekati Rp 16.500,” ungkapnya.

Sebelumnya, Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mencecar Bank Indonesia (BI) perihal besaran penerimaan anggaran operasional dari pos Hasil Pengelolaan Aset Valas (HPAV) sebesar Rp 66,65 triliun pada akhir kuartal IV-2025.

Sebagai catatan realisasi penerimaan HPAV berasal dari pendapatan bunga atau kupon SSB, bunga deposito dan giro. Ketua Komisi XI DPR M. Misbakhun mengatakan pertumbuhan dari hasil pengelolaan aset valas ini mencapai 212,25% menjadi Rp 66,65 triliun. Pertumbuhan yang besar ini menimbulkan pertanyaan, apakah bank sentral sengaja dibuat melemah sehingga penerimaannya naik.

“Artinya apa di saat rupiah mengalami tekanan justru BI penerimaannya paling besar. Lha ini menjadi pertanyaan kita semua, apakah rupiah ini dibiarkan melemah supaya penerimaan BI besar?,” kata Misbakhun.

Besarnya penerimaan dari HPAV ini ternyata tidak dibarengi dengan pencapaian target dalam penguatan nilai tukar rupiah. Dari catatan DPR, sejak 2022, angka asumsi dan realisasi nilai tukar rupiah selalu meleset.

Sementara itu, Misbakhun menyayangkan asumsi makro pada 2025 sebesar Rp 16.000 dan angka tersebut tidak tercapai, realisasinya mencapai Rp 16.865 per dolar AS. Dengan demikian, negara harus menanggung beban berat dari dampak melesetnya asumsi kurs tersebut.

Kondisi ini berdampak pada membengkaknya tanggungan negara terhadap subsidi energi, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG.

“Ada harga BBM yang harus kita impor, gas LPG harus impor, besaran ongkos negara luar biasa untuk memberikan bantalan subsidi energi, BBM dan LPG,” ujarnya.

Dengan demikian, Misbakhun mempertanyakan jika realisasi HPAV ini melebihi batas 100%, apakah ini menjadi prestasi BI.

“Angka di atas seratus ini bukan prestasi kalau kita melihat situasi sebenarnya. Ini angka yang bicara Pak…fantastis Pak kinerja 212%,” kata Misbakhun.

(arj/arj)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
IHSG Lanjut Reli, Lompat 1,84% Tembus Level 8.200

IHSG Lanjut Reli, Lompat 1,84% Tembus Level 8.200

October 21, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Rupiah Melemah & Dana Asing Keluar, Bos BI Blak-blakan Penyebabnya

Rupiah Melemah & Dana Asing Keluar, Bos BI Blak-blakan Penyebabnya

May 18, 2026
Gubernur BI Sebut Nilai Tukar Rupiah Akhir Tahun Bisa Rp 16.500/US$

Gubernur BI Sebut Nilai Tukar Rupiah Akhir Tahun Bisa Rp 16.500/US$

May 18, 2026
Kinerja IHSG Sepanjang Tahun Berjalan Ternyata Terburuk di Dunia

Kinerja IHSG Sepanjang Tahun Berjalan Ternyata Terburuk di Dunia

May 18, 2026
Indonesian Business Times

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .