Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Senin (6/7/2026), di tengah sentimen positif dari bursa saham Asia yang bergerak bervariasi dan penantian pelaku pasar terhadap risalah rapat Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IDX Mobile pada akhir perdaganagn sesi pertama, IHSG turun 11 poin atau 1,18% ke level 5.864,97.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 4,76 triliun dengan volume perdagangan 10,72 miliar saham dalam 912 ribu kali transaksi. Kapitalisasi pasar BEI berada di level sekitar Rp10.297 triliun. Sebanyak 265 saham menguat, 295 melemah dan 198 bergerak stagnan.
Mengutip Refinitiv, mayoritas sektor melemah dengan koreksi paling dalam dibukukan oleh sektor energi, konsumer dan barang baku. Sementara itu, kenaikan tertinggi dicatatkan oleh teknologi, kesehatan, infrastruktur dan energi.
Adapun sejumlah emiten yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG adalah BMRI, ASII, BBRI, TLKM dan AMMN.
Sejumlah data ekonomi penting akan menjadi penentu arah pasar keuangan global dan domestic hari ini dan sepanjang pekan ke depan.
Dari Amerika Serikat, investor akan menanti indikator sektor jasa hingga risalah rapat Federal Reserve (The Fed). Sementara dari dalam negeri, perhatian tertuju pada cadangan devisa, keyakinan konsumen, hingga survei penjualan eceran Bank Indonesia.
Sementara itu, OPEC+ kembali sepakat menaikkan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Agustus. Keputusan yang diumumkan pada Minggu (5/7/2026) menambah pasokan global di tengah pelemahan harga minyak dan mulai pulihnya ekspor melalui Selat Hormuz.
Kenaikan tersebut menyusul tambahan kuota dengan besaran yang sama pada Juni dan Juli. Secara kumulatif, tujuh anggota inti OPEC+ telah menaikkan target produksi hampir 800.000 bph sejak April.
Meski demikian, realisasi produksi belum sepenuhnya meningkat akibat perang AS-Israel-Iran yang sempat mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Produksi OPEC+ tercatat turun menjadi 33,13 juta bph pada Mei dari 42,77 juta bph pada Februari, sebelum mulai pulih pada Juni.
Di sisi lain, harga minyak telah kembali ke kisaran US$72 per barel, jauh di bawah puncaknya di atas US$120 per barel. Pelemahan harga dipicu turunnya impor minyak China, meningkatnya pasokan dari produsen di luar Timur Tengah, serta pelepasan cadangan minyak strategis global.
OPEC+ juga menghadapi tantangan baru setelah Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari aliansi dan Irak mendorong kuota produksi yang lebih besar. Menurut perhitungan Reuters, tujuh anggota inti masih memiliki sekitar 379.000 bph pemangkasan produksi yang belum dikembalikan ke pasar. Jika kembali menaikkan produksi pada pertemuan 2 Agustus mendatang, pemangkasan produksi yang disepakati pada 2023 diperkirakan akan sepenuhnya berakhir.
(fsd/fsd)
Add
as a preferred
source on Google



















