Jakarta, CNBC Indonesia – Usaha barbershop atau pangkas rambut dikenal sebagai salah bisnis yang tak lekang oleh waktu. Pasalnya, jasa cukur rambut tetap dibutuhkan masyarakat dari dulu hingga saat ini.
Akan tetapi, dewasa ini muncul fenomena baru di barbershop yang berkaitan erat dengan kondisi ekonomi Indonesia yang masih menantang. Para pelaku usaha mengakui pelanggan pangkas rambut memang masih ada setiap hari, akan tetapi jumlahnya tidak menentu.
Bahkan, mereka mengaku tempatnya ramai jika ada momentum tertentu saja seperti menjelang Hari Raya Idul Fitri dan tahun ajaran baru sekolah.
Pemilik Gamma Barbershop, Diana Ganefa mengaku sudah membuka usaha sejak tiga tahun terakhir karena melihat peluang bisnis potong rambut masih sangat terbuka. Ia juga berharap kegiatan potong rambut bisa menjadi kebutuhan rutin bagi masyarakat Indonesia.
“Peluang di bisnis ini masih terbuka, harapannya kegiatan potong rambut bisa menjadi kebutuhan rutin bagi masyarakat Indonesia,” ujar dia saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (7/7/2026).
Kendati begitu, saat ini jumlah pelanggan barbershop yang berlokasi di Tangerang Selatan tersebut masih tidak menentu. Dalam satu hari paling sedikit barbershop tersebut melayani sekitar 2 orang dan paling banyak sekitar 15 orang. Diana menilai, barbershop miliknya cenderung ramai hanya di momen-momen tertentu saja, seperti akhir pekan, menjelang Lebaran, dan ketika masuk tahun ajaran baru.
Beralih ke kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, seorang karyawan sekaligus pengelola pangkas rambut, Ibrahim juga mengakui bahwa pelanggan pangkas rambut sebenarnya masih ada setiap hari, namun jumlahnya tidak menentu. Pangkas rambut di tempatnya biasanya ramai saat momen akhir pekan atau saat setelah jam pulang kerja di atas jam 3 sore.
“Alhamdulillah sih ada tiap hari ada, ada yang nyukur ada gitu. Pernah sih dapet, 20 dapet juga tapi jarang. Tapi, kalau hari-hari biasa paling ada 3-5 kepala yang dicukur,” kata dia.
Ibrahim bilang, jasa cukur rambut untuk dewasa dihargai senilai Rp 35 ribu, anak-anak Rp 25 ribu, sedangkan untuk cukur jenggot Rp 10 ribu. Dia menjelaskan, karakteristik usaha jasa cukur rambut jelas berbeda dengan usaha lain seperti makanan yang memang telah menjadi kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, kebiasaan orang-orang untuk pergi ke tempat cukur rambut berbeda-beda, meski ada beberapa orang yang merasa punya kebutuhan untuk memangkas rambutnya beberapa bulan sekali.
Kondisi pangkas rambut di kawasan Tebet, Jakarta Selatan yang sepi pada Selasa (7/7/2026). (Dok Ist)) Foto: Kondisi pangkas rambut di kawasan Tebet, Jakarta Selatan yang sepi pada Selasa (7/7/2026). (Dok Ist))
|
Ditambah lagi, kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok membuat banyak orang lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, termasuk untuk mencukur rambut.
Dari situ, Ibrahim berharap kondisi ekonomi bisa kembali stabil, sehingga semua orang bisa memenuhi kebutuhannya, termasuk untuk mencukur rambut. Alhasil, untuk saat ini, ia hanya menggantungkan usahanya terhadap loyalitas pelanggan dan siapapun yang membutuhkan cukur rambut.
“Pokoknya normal aja lah, gitu. Kita mah rakyat kecil begini, gak banyak minta-minta banyak-banyak lah. Standar-standarnya normal aja harga-harga,” terang dia.
Beranjak ke kawasan Tebet, Jakarta Selatan, salah seorang karyawan pangkas rambut Asgar (Asli Garut), Deni, mengaku terdapat tren penurunan pelanggan yang terasa lebih nyata dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, pada jam operasional tertentu, pelanggan yang datang baru satu orang.
“Kalau lagi ramai bisa sembilan sampai 15 orang. Tapi kalau sepi cuma tiga orang. Hari ini saja sampai jam segini baru satu pelanggan,” ujarnya.
Padahal tarif yang ditawarkan pangkas rambut tersebut relatif murah. Lihat saja, jasa cukur rambut dewasa dipatok Rp20 ribu, anak-anak Rp15 ribu, cukur jenggot Rp7 ribu, hingga pewarnaan rambut Rp50 ribu.
Menurut Deni, banyaknya kompetitor membuat pelanggan semakin tersebar, sehingga mempengaruhi jumlah pelanggan yang datang ke tempat pangkas rambutnya. Selain itu, sebagian pelanggan kini cenderung enggan mengantre dan memilih mencari pangkas rambut lainnya yang kosong.
Di sisi lain, Deni juga berpendapat bahwa pelemahan daya beli masyarakat ikut memengaruhi jumlah pelanggan di tempatnya bekerja. “Kalau dibanding tahun lalu memang terasa turun. Pengaruh ekonomi juga ada,” katanya.
Sebagai perantau asal Garut, Jawa Barat, yang memiliki anak di periode sekolah, Deni berharap kondisi ekonomi di Tanah Air segera membaik. Hal ini agar masyarakat dapat memiliki kemampuan lebih besar untuk membelanjakan uang, termasuk untuk kebutuhan potong rambut.
Cerita dari Diana, Ibrahim, dan Deni menunjukkan bahwa usaha pangkas rambut atau barbershop memang masih bisa bertahan karena menawarkan jasa yang tetap dibutuhkan masyarakat. Namun, frekuensi kunjungan pelanggan tampaknya mulai berubah.
Jika sebelumnya aktivitas cukur rambut dilakukan lebih rutin, kini sebagian masyarakat cenderung mengerem kunjungan ke tempat cukur rambut sebagai bentuk penyesuaian pengeluaran sehari-hari. Kondisi tersebut membuat omzet pengelola pangkas rambut menjadi semakin bergantung pada momentum musiman. Lantas, para tukang cukur rambut ini berharap adanya stabilitas ekonomi, sehingga masyarakat tidak lagi menunda kebutuhan untuk cukur rambut.
(wur)
Add
as a preferred
source on Google



















