
Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melakukan transformasi besar-besaran pada seluruh perusahaan BUMN. Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan, hal tersebut dilakukan untuk penguatan kualitas perusahaan pelat merah yang menjadi fondasi utama keberlanjutan Danantara Indonesia.
Dony yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN ini memaparkan, transformasi tersebut dilakukan melalui restrukturisasi besar-besaran terhadap struktur BUMN. Dari 1.074 perusahaan, jumlah BUMN ditargetkan terus disederhanakan hingga sekitar 250 perusahaan. Bahkan saat ini diarahkan menjadi kurang dari 200 perusahaan untuk membangun struktur yang lebih efisien dan kuat
“Jadi, kuncinya adalah bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas BUMN itu sendiri. Ini adalah restrukturisasi perusahaan terbesar yang pernah ada di dunia. Awalnya ada 1.074 perusahaan, dan pada akhirnya akan menjadi 250 perusahaan. Dan saat ini kami menargetkan setidaknya kurang dari 200 perusahaan,” mengutip Instagram resmi BUMN ID, Rabu (28/10/2026).
Sebagai sovereign wealth fund (SWF) berbasis BUMN, keberhasilan Danantara sangat bergantung pada kemampuan memperbaiki kinerja dan kualitas badan usaha milik negara.
“Hal pertama yang perlu kita pahami, Danantara Indonesia adalah perpaduan antara badan usaha milik negara (BUMN) dan dana kekayaan negara. Jika kita gagal mengelola BUMN kita, maka Danantara Indonesia tidak akan ada lagi,” ungkapnya.
Mengutip data Danantara Indonesia, sebanyak 1.074 perusahaan BUMN dan anak usaha, banyak yang menjalankan bisnis yang sama, dan transaksi antarperusahaan berlapis-lapis. Dari sisi keuangan, kinerjanya dinilai kurang baik dan terkonsentrasi.
Sebanyak 52% BUMN dan anak usaha mencatat rugi bersih pada tahun buku 2024, sementara 97% dividen hanya berasal dari delapan BUMN terbesar. Selain itu, utang menumpuk tanpa pengendalian yang efektif, dan sebagian model bisnis dinilai tidak sesuai dengan pasarnya.
Dari sisi tata kelola, terdapat lebih dari 100 kasus hukum dan sengketa antarperusahaan, dengan praktik yang disebut mencakup rekayasa keuangan dan akuntansi kreatif, serta kecurangan, kolusi, dan vendor fiktif.
Berdasarkan temuan itu, Danantara merumuskan 3 kebutuhan, yaitu menyederhanakan portofolio, memulihkan disiplin keuangan, dan memperkuat tata kelola.
Rencana transformasi disusun bertahap dalam lima fase hingga 2030. Pada 2025-2026, fokusnya restrukturisasi dan konsolidasi, mencakup kajian bisnis mendasar atas seluruh BUMN dan grup, penyederhanaan dan konsolidasi bisnis, serta integrasi pascamerger.
Selanjutnya, pada tahun 2027 diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia dan budaya korporasi melalui sistem penjenjangan tunggal, Danantara Corporate University, dan manajemen talenta berbasis kinerja dan meritokrasi.
Pada 2028, Danantara menyiapkan inovasi lewat teknologi, yakni digitalisasi dan otomasi proses, pengambilan keputusan berbasis data, serta pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Sementar pada tahun 2029 menjadi fase penciptaan nilai, termasuk perluasan akses permodalan regional dan global melalui IPO, penerbitan obligasi, dan penggalangan dana. Hingga sasaran akhir pada 2030 adalah menjadi korporasi kelas dunia, dengan standar SWF setara pesaing global terkemuka, tata kelola dan kapabilitas kelembagaan kelas dunia, serta keterwakilan di daftar Fortune Global 500 dan Forbes Global 2000.
Untuk fase awal, Danantara melakukan tinjauan bisnis mendasar terhadap setiap BUMN dalam tiga langkah. Pertama, membandingkan model bisnis, margin, dan produktivitas dengan praktik terbaik global, termasuk struktur pendapatan serta struktur biaya dan margin EBITDA.
Kedua, menganalisis pasar dan kapabilitas internal melalui empat sudut pandang, yaitu pertumbuhan dan persaingan industri, regulasi, kondisi keuangan, serta kapasitas organisasi dan operasional. Terakhir, menetapkan satu dari empat tindakan korporasi bagi setiap entitas.
Hasilnya, sekitar 636 entitas telah memiliki tindakan korporasi yang ditetapkan, yaitu 200 entitas untuk konsolidasi, sekitar 15 untuk restrukturisasi keuangan, 213 untuk likuidasi, dan 208 untuk divestasi.
Dari kajian tersebut, Danantara menargetkan penyederhanaan struktur dari sekitar 1.074 entitas pada kondisi awal menjadi sekitar 250 entitas. Hingga Oktober 2026, sekitar 364 entitas telah dirampingkan melalui restrukturisasi, merger, divestasi, dan likuidasi.
Tercatat, beberapa contoh konsolidasi yang telah dilakukan adalah penggabungan MI terbesar di Indonesia, yang melibatkan entitas seperti Mandiri Investasi, BNI, BRI, dan PNM. Selain itu, 72 aset hotel dari berbagai BUMN dikonsolidasikan ke dalam Injourney Hospitality untuk membentuk salah satu operator hotel domestik terbesar.
Di sektor logistik, LogisticsCo lahir dari penggabungan tujuh entitas freight forwarding dalam satu grup.
Danantara menyebut transformasi itu mulai berbuah pada kinerja. Laba bersih konsolidasi BUMN pada delapan bulan 2026 mencapai Rp214,9 triliun. Angka tersbeut naik 18,4% secara tahunan dari Rp181,5 triliun pada periode sama 2025. Selain itu, Return on equity (ROE) yang diannualisasi naik 0,6 poin persentase menjadi 8,0% per Agustus 2026 sebelumnya diposisi dari 7,4%.
Bahkan, dua BUMN disebut berbalik dari rugi menjadi laba setelah mendapat dukungan modal dari Danantara Asset Management, yaitu PT. Krakatau Steel Tbk (KRAS) pada Desember 2025 dan Len Industri pada Maret 2026.
Kenaikan laba terbesar secara tahunan per Agustus 2026 dicatat PT. Semen Indonesia Tbk (SMGR) sebesar 427%, disusul Pupuk Indonesia 233% dan Danareksa 110%. Berikutnya PTPN III naik 55%, Pertamina 48%, Pelindo 45%, PT. Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) 35%, dan PT. Bank Mandiri Tbk (BMRI) 16%.
Efisiensi restrukturisasi juga diharapkan memberikan dampak finansial yang signifikan. Penutupan perusahaan yang dinilai tidak lagi diperlukan diproyeksikan dapat menghemat biaya hingga US$ 3,5 miliar dolar AS PER tahun, sekaligus memperkuat fondasi BUMN sebagai aset strategis bagi Danantara.
“Jadi, pada dasarnya, jika saya menutup perusahaan-perusahaan ini, kita langsung menghemat US$ 35 miliar setiap tahunnya,” tutupnya.
(rob/rob)



















