Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (11/6/2026), melanjutkan reli yang telah berlangsung dalam dua hari terakhir di tengah meningkatnya optimisme pelaku pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.00 WIB, IHSG naik 0,06% ke level 5.905,78. Kemudian IHSG melanjutkan penguatan dengan naik 0,4%.
Sebanyak 274 saham menguat, 153 saham melemah, dan 532 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi pada awal perdagangan tercatat mencapai Rp327,3 miliar dengan volume perdagangan 398 juta saham dalam 53.740 kali transaksi.
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan sentimen global, termasuk dinamika pasar keuangan internasional dan pergerakan arus modal asing. Pada perdagangan kemarin, investor asing tercatat membukukan net sell Rp3,13 triliun di seluruh pasar, meski IHSG berhasil ditutup menguat tajam.
Adapun pasar keuangan Indonesia pada hari ini masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri maupun kelanjutan makroekonomi global.
IHSG dan rupiah sedang dalam tahap penguatan. Namun, pesta IHSG dan rupiah bisa dirusak oleh duua kabar buruk dari Amerika Serikat yakni serangan baru dari tentara AS serta inflasi AS yang melonjak.
Perang Iran vs AS memanas lagi setelah Amerika Serikat mulai melancarkan serangan ke Iran pada Rabu, menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Dalam unggahan di platform X, CENTCOM menyatakan militer AS mulai “melancarkan serangan tambahan untuk pertahanan diri pada pukul 17.15 waktu ET terhadap sejumlah target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi.” Unggahan tersebut menegaskan bahwa serangan dilakukan “sebagai respons atas agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut.”
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran telah menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz dengan serangan rudal dan drone.
Serangan terbaru ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan sebelumnya pada Rabu bahwa AS akan kembali menghantam Iran “dengan sangat keras”, meningkatkan ancaman publiknya sambil terus menekan Teheran agar menandatangani sebuah kesepakatan.
“Kami menghantam mereka dengan keras kemarin, dan kami akan menghantam mereka dengan keras lagi hari ini,” kata Trump dalam acara penandatanganan Secure America Act di Gedung Putih.
Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat Rabu malam merilis data inflasi periode Mei 2026 yang menunjukkan akselerasi inflasi tahunan ke level 4,2%. Angka ini naik dari posisi 3,8% pada bulan April dan mencetak rekor tertinggi sejak April 2023.
Secara bulanan, inflasi umum mencatatkan kenaikan 0,5%. Lonjakan inflasi utama ini secara spesifik didominasi oleh melesatnya indeks harga energi hingga 3,9% secara bulanan atau 23,5% secara tahunan akibat tekanan pasar komoditas.
Sebaliknya, inflasi inti yang mengecualikan sektor energi dan pangan tampil lebih moderat dengan kenaikan 0,2% secara bulanan dan 2,9% secara tahunan.
Merespons data inflasi kemarin, pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan 17 Juni mendatang, dengan potensi kenaikan baru diprediksi mundur hingga bulan Desember.
Di tengah dinamika pengetatan tersebut, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, justru mengindikasikan bahwa suku bunga memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah di masa depan.
Warsh meyakini bahwa lonjakan produktivitas dari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan akan memberikan dampak disinflasi yang signifikan bagi perekonomian secara keseluruhan.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google


















