Jakarta, CNBC Indonesia-Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI M. Misbakhun meminta Bank Indonesia (BI) mampu menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Secara spesifik BI diminta agar rupiah kembali ke level Rp16.000 dolar AS.
Hal ini disampaikan Misbakhun ketika rapat kerja dengan Gubernur BI Perry Warjiyo beserta jajaran di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (18/5/2026).
“Kesepakatan politik akan menjadi basis legitimasi kepada bapak melakukan seperti itu. Tapi juga dihormati keputusan politik rerata 16.500. Sampai sekarang start Januari 2026 sampai sekarang 16.500 belum pernah. Lah terus sepanjang akhir pertengahan semester harus berada di 16.000 flat supaya sampai di 16.500 rerata,” ungkapnya.
Misbakhun menyoroti perihal besaran penerimaan anggaran operasional dari pos Hasil Pengelolaan Aset Valas (HPAV) sebesar Rp 66,65 triliun pada akhir kuartal IV-2026.
Sebagai catatan realisasi penerimaan HPAV berasal dari pendapatan bunga atau kupon SSB, bunga deposito dan giro. Misbakhun mengatakan pertumbuhan dari hasil pengelolaan aset valas ini mencapai 212,25% menjadi Rp 66,65 triliun. Pertumbuhan yang besar ini menimbulkan pertanyaan, apakah bank sentral sengaja dibuat melemah sehingga penerimaannya naik.
“Artinya apa di saat rupiah mengalami tekanan justru BI penerimaannya paling besar. Lha ini menjadi pertanyaan kita semua, apakah rupiah ini dibiarkan melemah supaya penerimaan BI besar?,” kata Misbakhun.
Besarnya penerimaan dari HPAV ini ternyata tidak dibarengi dengan pencapaian target dalam penguatan nilai tukar rupiah. Dari catatan DPR, sejak 2022, angka asumsi dan realisasi nilai tukar rupiah selalu meleset.
Sementara itu, Misbakhun menyayangkan asumsi makro pada 2025 sebesar Rp 16.000 dan angka tersebut tidak tercapai, realisasinya mencapai Rp 16.865 per dolar AS. Dengan demikian, negara harus menanggung beban berat dari dampak melesetnya asumsi kurs tersebut.
Kondisi ini berdampak pada membengkaknya tanggungan negara terhadap subsidi energi, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG.
Usulan tersebut langsung dijawab oleh Perry dengan mempertimbangkan situasi terkini. “Kami meyakini Juni-Agustus sehingga whole year kesepakatan 16.200-16.800. Beri kami waktu,” jawab Perry.
(mij/mij)
Add
as a preferred
source on Google

















