Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (18/5/2026).
Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan sore ini rupiah berakhir di zona merah dengan melemah 1,03% ke level Rp17.640/US$. Level tersebut membuat rupiah kembali menembus area psikologis di atas Rp17.000/US$ dan menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah dibuka di level Rp17.630/US$ dan sempat melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.670/US$, sebelum akhirnya ditutup di level penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau berbalik melemah 0,11% ke level 99,174.
Pelemahan rupiah terjadi pada perdagangan pertama setelah libur panjang keagamaan akhir pekan lalu. Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor global, tetapi juga dari sentimen pasar keuangan domestik.
Salah satu tekanan utama berasal dari kekhawatiran pasar terhadap perubahan komposisi indeks MSCI. Dalam review Mei 2026, MSCI resmi mengeluarkan enam saham Indonesia dari Global Standard Index.
Penghapusan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat membuat bobot Indonesia di indeks emerging market menyusut.
Menurut ekonom DBS Radhika Rao, bobot Indonesia di indeks emerging market diperkirakan turun menjadi sekitar 0,5-0,6%, dari sebelumnya hampir 0,8%.
“Porsi Indonesia yang lebih rendah ini akan mendorong investor untuk menyesuaikan kembali portofolio mereka, sehingga berpotensi memicu tambahan arus keluar asing dalam skala moderat,” tulis Radhika Rao dalam riset Indonesia markets: MSCI rebalances index, slippery rupiah, dikutip Senin (18/5/2026).
Investor global yang mengikuti indeks MSCI berpotensi menyesuaikan kembali portofolio mereka. Ketika bobot Indonesia turun, kebutuhan untuk memegang saham-saham Indonesia juga ikut berkurang.
Tekanan ini dapat membuka ruang keluarnya dana asing tambahan dari pasar saham domestik. Pada akhirnya, permintaan terhadap rupiah ikut melemah karena aliran dana asing ke pasar saham belum cukup kuat.
Selain faktor pasar keuangan, pelemahan rupiah juga tidak bisa dilepaskan dari persepsi investor terhadap kebijakan fiskal.
Pasar mencermati arah belanja pemerintah, kualitas penggunaan anggaran, serta kemampuan menjaga defisit tetap kredibel. Dalam kondisi tekanan eksternal yang masih tinggi, kredibilitas fiskal menjadi salah satu faktor penting yang ikut memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset rupiah.
Dalam tulisan Ezaridho Ibnutama, pelemahan rupiah tidak semata-mata bisa dibaca sebagai persoalan moneter. Nilai tukar juga mencerminkan penilaian pasar terhadap perilaku fiskal pemerintah.
“Nilai tukar, dalam jangka panjang, adalah vonis atas perilaku fiskal pemerintah,” tulis Ezaridho, dikutip Senin (18/5/2026).
Poin ini menjadi penting karena ketika rupiah melemah, beban kewajiban dalam dolar AS juga ikut meningkat. Artinya, semakin dalam pelemahan rupiah, semakin besar pula beban dalam rupiah untuk membayar kewajiban berdenominasi valuta asing.
“Setiap penurunan nilai rupiah menggelembungkan biaya riil cicilan utang,” tulis Ezaridho.
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google
















